Laman

HADITS 2 ARBA'IN NAWAWI FAEDAH-FAEDAH (BAGIAN 3 DARI 5)

HADITS 2 ARBA'IN NAWAWI FAEDAH-FAEDAH (BAGIAN 3 DARI 5)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Rabi’ul Awwal 1439 H / 22 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Faedah Hadits Jibril (Bagian 03 dari 05)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0209
-----------------------------------

*HADITS 2 ARBA'IN NAWAWI FAEDAH-FAEDAH (BAGIAN 3 DARI 5)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم  صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأخوانه

In Syā Allāh, kita melanjutkan pembahasan faedah-faedah yang bisa diambil dari hadīts Jibrīl.

Amalan tubuh merupakan keimānan. Kenapa saya membahas masalah ini?

Karena timbul orang-orang yang sesat dalam hal ini.

▪Di antaranya adalah kelompok Murji'ah.

Kelompok murji'ah yang dikenal kelompok ahlul irja', yaitu orang-orang yang mengeluarkan amal shālih dari keimānan.

Kata mereka, yang namanya imān cukup di hati, imān tidak bisa naik dan tidak bisa turun. Seluruh orang imānnya sama (ini perkataan mereka).

Dan ahlul irja' (orang-orang Murji'ah)  telah diperingatkan bahaya mereka oleh para ulamā sejak zaman dahulu.

Dan mereka terdiri atas 3 kelompok, yaitu:

⑴ Kelompok Murji’ah pertama adalah kelompok Jahmiyah.

Kelompok Jahmiyah menyatakan:

"Yang namanya imān adalah _at tasdik_ (membenarkan) dan tempatnya di hati, sehingga amalan bukan termasuk keimānan.

Yang namanya kāfir adalah jāhilbillāh, tidak mengerti Allāh. Itulah yang namanya jāhil. Tetapi selama seorang membenarkan adanya Allāh maka ia seorang yang mukmin."

Jawabannya: tidak benar.

Kalau selama mengetahui adanya Allāh orang mukmin, maka Fir'aun juga mukmin, karena Fir'aun juga tahu ada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemudian iblīs juga mukmin, karena iblīs tahu ada Allāh.

Iblīs mengatakan:

  أَنَا۠ خَيْرٌۭ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍۢ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍۢ

_“Saya tidak mau sujud kepada Ādam, karena saya lebih baik daripada dia (Ādam). Kau  (yā Allāh) ciptakan aku dari api, sedang Engkau ciptakan Ādam dari tanah."_

⇒ Iblīs berarti berimān jika berdasarkan pendapat ini.

⑵ Kelompok Murji'ah yang kedua adalah Karamiyyah.

Orang-orang karamiyyah mengatakan:

"Yang namanya imān adalah qalbi lisan. Seorang mengatakan: أشهدُ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله , maka dia adalah orang yang berimān.

Adapun yang lainnya maka dia bukan orang yang berimān."

Kelazimannya orang-orang munāfiq yang mengatakan: أشهدُ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله , juga orang-orang yang berimān.

Kita mengatakan: lisan benar, bagian dari keimānan tetapi yang paling inti adalah di hati.

⑶ Kemudian timbul kelompok Murji’ah yang ketiga, yang disebut dengan Murji'atul Fuqāha, murji'ahnya orang-orang ahli faqih.

Mereka ahli fiqh namun mereka terjerumus dalam bid'ah murji'ah, (yaitu) mereka menyatakan:

"Imān hanyalah qaulbilisan, kemudian apa yang ada amalan hati. Adapun amalan perbuatan seperti shalāt maka dia bukan bagian dari keimānan."

Ini pendapat dan telah muncul kelompok-kelompok sesat dalam hal ini. Dan kita bisa baca dalam buku-buku para ulamā tatkala membantah mereka.

Sehingga mereka menyatakan bahwasannya imān cuma ada di hati, tidak bertambah dan tidak berkurang, satu kesatuan, tidak bisa terpecah-pecah, tidak bisa terbagi-bagi, tidak bisa bercabang-cabang. Imān satu kesatuan.

▪Kelompok berikutnya yang disebut dengan orang-orang Khawarij.

Orang-orang khawarij mereka mirip dengan ahlussunnah. Mereka menyatakan bahwasannya:

"Imān adalah perkataan dengan lisan, amalan apa yang di hati dan amalan perbuatan."

Hanya saja mereka terlalu kencang sampai mereka meyakini bahwasannya:

"Imān adalah satu kesatuan, tidak bisa terpisah-pisah."

Sebagai gambaran, tadi telah saya jelaskan, bahwasannya imān menurut ahlussunnah bercabang-cabang. Hadīts Nabi mengatakan:

"Imān 70 sekian cabang, yang paling tinggi: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ, yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan dan rasa malu merupakan bagian dari keimanan."

Ini aqidah ahlussunnah, bahwasannya imān itu bercabang-cabang, bisa bertambah bisa berkurang.

Adapun ahlul bid'ah dari kaum Murjia'h maupun kaum Khawarij dan Mu'tazilah mereka memandang imān satu kesatuan, tidak bisa terpisah-pisah.

إذا ذهب بعضه ذهب كله...

_"Kalau satu bagian lepas maka hilang seluruhnya."_

⇒ Ini kaedah mereka yang disepakati oleh Murji'ah,  Khawarij dan Mu'tazilah.

Mereka semua menyakini bahwasannya imān satu kesatuan, tidak bisa terpisah-pisahkan.

Saya harus menjelaskan karena inilah yang dijelaskan oleh para ulamā dalam buku-buku mereka tentang masalah keimānan.

Ahlussunnah memandang bahwasannya imān bisa bercabang-cabang, kalau hilang sebagian tidak mesti hilang seluruhnya.

Contohnya:

Ada orang melihat ada gangguan di jalan dia tidak hilangkan.

Berarti ada cabang keimānan yang hilang.

Tapi apakah otomatis dia kāfir?

Jawabannya tidak, karena masih banyak cabang keimānan yang lain.

Ibarat pohon, kalau ada pohon kita patahkan satu rantingnya apakah pohonnya hilang?

Jawabannya tidak, kecuali kita cabut akarnya baru hilang pohon tersebut.

Oleh karenanya, kalau orang kāfir kemudian tidak berimān dengan: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ , terjerumus ke dalam kesyirikan, baru kita bilang dia kāfir.

Adapun jika meninggalkan sebagian cabang keimānan, dia harusnya di antara cabang keimānan berbakti pada orang tua, kemudian dia durhaka kepada orangtua. Apakah orang seperti ini kāfir ?

Jawabannya: tidak.

Tetapi cabang keimānannya banyak yang lepas,  tetapi akar dari keimānan masih ada yaitu: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ.

Jadi imān menurut ahlussunnah wal jama'ah ibarat pohon yang banyak cabang-cabangnya, kalau ada sebagian cabang yang hilang tidak otomatis hilang pohon tersebut.

Adapun Murji'ah, Khawarij dan Mu'tazilah, tidak. Menurut mereka imān satu kesatuan, kalau hilang sebagian hilang seluruhnya.

Oleh karenanya, orang-orang Murji'ah mengatakan:

"Kita lihat dalam dalīl-dalīl, bahwasannya orang yang melakukan kemaksiatan tidak kāfir, dan ia masih berimān.

Oleh karenanya para shahābat menshalātkan orang yang berzinah, pelaku zinah dishalāti oleh para shahābat.

Berzinah dosa tetapi ternyata masih dishalāti oleh kaum muslimin. Setelah dirajam masih dishalāti. Berarti dia masih berimān. (Kalau orang kāfir tidak boleh dishalāti)."

Akhirnya orang Murji'ah punya kesimpulan:

"Kalau begitu amal perbuatan bukan daripada keimānan.

Kenapa?

Buktinya orang pelaku maksiat masih berimān.

Dalam satu hadīts , Rasul shalallahu 'alayhi wasallam mengatakan:

من قال لا إله إلا الله فقد دخل الجنة

_Barangsiapa yang mengucapkan: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ, masuk surga"/._

Ada shahābat berkata:

وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ

_Meskipun dia mencuri dan berzinah?_

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ

_Meskipun dia mencuri dan berzinah dia masuk surga._"

Orang-orang Murji'ah hanya melihat hadīts-hadīts seperti ini. Dia tidak lihat hadīts bahwasannya orang berzinah diazab oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Orang yang mencuri diancam oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dia tidak lihat!

Oleh karenanya di antara kesesatan yang terjadi di antara firqah-firqah hanya memandang syari'at dari sebagian pandangan. Hanya melihat dari satu sudut pandang, tidak menilai seluruh dalīl.

Adapun ahlussunnah, tidak. Ahlussunnah wal jama'ah mengumpulkan seluruh dalīl baru kemudian membuat kaedah. Tidak hanya memandang dari sebagian dalīl.

Orang yang melihat hadīts ini:

من قال لا إله إلا الله فقد دخل الجنة

_"Barangsiapa yang mengatakan: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ , masuk surga."_

Dikatakan pada Nabi:

وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ

_"Meskipun dia zinah meskipun dia mencuri?"_

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Meskipun dia berzinah meskipun mencuri dia masuk surga."

Maka dia mengatakan:

"Kalau begitu tidak jadi masalah. Sementara imān di hati meskipun berzinah meskipun mencuri tetap masuk surga. Sehingga imān apa yang ada di hati."

Seperti sebagian orang yang hanya melihat satu hadīts, hadīts tentang seorang wanita pezinah yang diampuni oleh Allāh gara-gara memberi minum seekor anjing. Itu saja yang dia lihat.

Ini salah, bukan begini cara melihat agama tetapi dengan melihat seluruh dalīl.

Timbulnya kesesatan karena hanya melihat satu sudut pandang. Ini yang jadi masalah.

Sehingga tatkala Murji'ah mengatakan imān satu kesatuan, tidak mungkin terpisah-pisah, maka mereka mengatakan orang yang bermaksiat masih dikatakan berimān, berarti maksiat-maksiat tersebut, amalan-amalan tersebut bukan daripada keimanan.

Sampai di sini saja, apa yang bisa saya sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-----------------------------------

HADITS 2 ARBA'IN NAWAWI FAEDAH-FAEDAH (BAGIAN 2 DARI 5)

HADITS 2 ARBA'IN NAWAWI FAEDAH-FAEDAH (BAGIAN 2 DARI 5)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 03 Rabi’ul Awwal 1439 H / 21 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Faedah Hadits Jibril (Bagian 02 dari 05)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0208
-----------------------------------

*HADITS 2 ARBA'IN NAWAWI FAEDAH-FAEDAH (BAGIAN 2 DARI 5)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم  صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأخوان

Kita melanjutkan pembahasan faedah-faedah yang bisa diambil dari hadīts Jibrīl.

Pembahasan berikutnya yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah definisi imān.

Tatkala dikatakan imān, maksudnya juga Islām. Karena sekarang saya bicara konteks imān tersendiri.

⇒ Jadi imān sama dengan Islām.

Apa itu imān?

Dan ini disebutkan oleh para salaf, keimānan kata Al Imām Ahmad rahimahullāh:

الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص

_"Bahwasannya imān adalah perkataan dan perbuatan bertambah dan berkurang."_

Kemudian Al Imām Syāfi'i rahimahullāh pernah berkata:

وَكَانَ الْإِجْمَاعُ مِنَ الصَّحَابَةِ، وَالتَّابِعِينَ مِن بَعْدِهِم مِّمَّنْ أَدْرَكْنَاهُمْ : أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ، لَّا يُجْزِئُ وَاحِدٌ مِّنَ الثَّلَاثَةِ إِلَّا بِالْآخَرِ. 
 
_"Ijmā' dari para shahābat dan juga dari para tābi'in yang kami temui, bahwasannya imān itu adalah perkataan dan amal perbuatan serta niat (yaitu amalan hati) dan tidak sah salah satunya kecuali bergabung dengan yang lainnya."_

Dari sini dan banyak perkataan salaf tentang hal ini, bahwasannya imān menurut ahlus sunnah wal jama'ah , terdiri atas 3 perkara, yaitu:

⑴ Amalan perkataan.
⑵ Amalan perbuatan.
⑶ Amalan hati.

⇒ Semuanya disebut dengan imān.

Jadi imān itu ada yang namanya amalan hati, kemudian ada namanya amalan perkataan dan juga ada amalan perbuatan.

Dalīlnya akan hal ini banyak. Di antaranya seperti sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadīts yang shahīh:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

_"Bahwasannya imān (atau Islām) itu ada 70 sekian cabang (sekarang saya katakan imān berarti sama dengan Islām)_

⇒ bidh'ah itu dalam bahasa Arab adalah beberapa artinya. Jadi imān ada 70 sekian.

_Cabang yang paling tinggi adalah: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ dan yang paling rendah yaitu:  إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ (menghilangkan gangguan dari jalan)."_

Ini semua imān, jika ini dilakukan akan dapat pahala seluruhnya.

Kemudian kata Nabi:

وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

_"Dan rasa malu merupakan cabang dari cabang-cabang keimānan."_

Perhatikan di sini, لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ, ini adalah perkataan berarti perkataan termasuk keimānan. Dan banyak keimānan yang berkaitan dengan perkataan, seperti dzikir.

Kemudian menghilangkan gangguan dari jalan, ini adalah perbuatan.

Kemudian rasa malu adalah amalan hati.

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

_"Bahwasannya rasa malu merupakan cabang dari keimānan."_

Ini dalīl bahwasannya perkataan, amalan hati, amalan perbuatan tubuh juga merupakan keimānan.

Dan ada 70 sekian cabang keimānan dan ini diantara 3 (tiga) yang disebutkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karenanya para ulamā tatkala membaca hadīts ini, ada 2 (dua) pendapat:

⑴ Pendapat sebagian ulamā mengatakan, maksud Nabi 70 sekian, artinya cabang keimānan itu banyak.

Karena kalau kita mau hitung, namanya dzikir saja banyak jenisnya. Amalan juga banyak (seperti) shalāt, haji, puasa, ini juga amalan.

Kalau kita bicara amalan hati juga banyak (seperti) ada tawakkal, ada taubat, ada berharap, ada takut kepada Allāh, rasa malu. Ini semua amalan hati.

Sehingga mereka mengatakan, maksud Nabi 70, itu menunjukkan jumlah yang banyak.

Dan orang-orang Arab, sering menyebutkan angka 70 tapi maksudnya adalah banyak.

Contohnya dalam Al Qur'ān, Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam:

ٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِن تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةًۭ فَلَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَهُمْ ۚ

_"Jika kau minta ampunan bagi mereka (orang-orang munāfiq) atau kau tidak minta ampunan bagi mereka, sama saja. Kalau kau minta ampunan bagi mereka 70 kali, Allāh tidak akan ampuni mereka."_

(QS At Tawbah: 80)

70 (tujuh puluh) di sini maksudnya adalah sebanyak-banyak apapun, Allāh tidak akan ampuni. Sehingga sering orang Arab menggunakan kalimat angka 70 untuk menunjukkan jumlah yang banyak.

Contohnya dalam hadīts disebutkan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam didengar oleh shahābat bahwa sekali   Beliau duduk Beliau beristighfār 70 kali. Ternyata dalam riwayat yang lain 100 kali. Berarti 70 itu menunjukkan (maksudnya adalah) jumlah yang banyak.

Contohnya seperti sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ. قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: ( اَلْجَمَاعَةُ )

_"Bahwasannya umat Yahūdi telah terpecah menjadi 71, umat Nashrāni telah terpecah menjadi 72 golongan, dan umat Islām akan terpecah menjadi 73 golongan. Seluruhnya di neraka kecuali satu._

_Siapa mereka?_

_Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (yaitu)  mereka yang mengikuti jalanku dan jalan para shahābatku."_

(Hadīts riwayat Ibnu Mājah dan lafazh ini miliknya, dalam Kitābul Fitan, Bāb Iftirāqul Umam (no. 3992))

Kalimat 70 (tujuh puluh) ini, sebagian ulamā memahami bukan maksudnya angka 70 tetapi maksudnya akan timbul banyak khilāf, banyak firqah-firqah dalam Islām yang apabila kita hitung sekarang mungkin lebih dari 100 atau mungkin 200 (maksudnya)  adalah jumlah yang banyak.

Karenanya sebagian ulamā mengatakan, kata Nabi 70 sekian cabang maksudnya banyak. Ini pendapat sebagian ulamā.

⑵ Sebagian ulamā mengatakan, 70 sekian benar-benar maksudnya 70 sekian, sehingga mereka mulai menghitung cabang-cabang keimānan.

Kita dapati sebagian ulamā menulis buku tentang cabang-cabang keimānan.

Contohnya:

√ Al Halimi dari madzhab Syāfi'iyyah menulis buku Al Minhāj Fī Syu'abil Imān, ini disebutkan tentang cabang-cabang keimānan. Cabang pertama, cabang kedua, cabang ketiga, cabang keempat.

√ Al Baihaqi kitābnya Syu'abul Imān, bukunya tebal. Isinya tentang cabang-cabang keimānan dan penjelasannya. Cabang pertama, cabang kedua, cabang, ketiga, dan seterusnya cabang-cabang keimānan.

Mereka ingin mengumpulkan seluruh amalan-amalan yang disebut oleh Nabi dengan keimānan.

Intinya cabang-cabang keimānan banyak dan mencakup perkataan, perbuatan dan juga amalan hati.

Kemudian tadi kata Imām Ahmad:

الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص

_"Bahwasannya imān perkataan dan perbuatan, naik dan turun."_

Bagaimana maksudnya naik dan turun?

الإيمان يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

_"Imān naik dengan keta'atan dan imān turun dengan kemaksiatan."_

Dan ini bisa kita rasakan, kalau kita bertaqwa kepada Allāh, kita shalāt, hadir di pengajian, kemudian kita baca Al Qur'ān kita merasakan imān kita, merasa kita dekat dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Bahkan terkadang kita rindu (karena merasa dekat), "Yā Allāh matikan saya." Terkadang timbul perkataan dalam hati kita, "Sudahlah kita meninggal saja."

Begitu kita pulang, turun imān kita, dengan penuh kemaksiatan akhirnya turun imān sedikit demi sedikit.

⇒ Ini di antara 'aqidah ahlussunnah bahwasannya imān bisa naik dan bisa turun.

Bahkan dalam satu amalan imān bisa bertingkat-tingkat.

Shalāt, tidak sama semua. Ada yang shalāt khusyu' ada yang shalāt kurang khusyu'.

Oleh karenanya Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh menyebutkan bahwasannya bisa jadi dua orang, shalāt di satu shaf berdampingan, A dan B (misalnya) berdampingan, gerakan shalātnya sama, di masjid yang sama berdampingan, tetapi pahala antara keduanya antara langit dan bumi.

Satunya khusyu'nya luar biasa, satunya pikirannya menerawang kemana-mana.

Tidak sama dalam satu amalan, ahlul imān bisa berbeda-beda.

Contohnya tadi seperti kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

_Menghilangkan gangguan dari jalan._

Orang mensikapi gangguan di jalan berbeda-beda, dari yang baik sampai yang buruk.

√ Ada lihat kaleng di jalan. Ada yang lihat saja. Naik motor lihat kaleng di jalan sedih dia, "Waduh, ini kalau ada yang nginjak gimana," tapi dia tidak turun untuk memindahkan untuk kaleng tersebut. Orang ini dapat pahala karena dia khawatir ada seorang muslim yang lain yang bisa terkena gangguan tersebut.

√ Ada yang tidak, dia lihat kaleng tersebut atau gangguan di jalan dia turun. Berhenti dari motornya dia hilangkan. Ini lebih tinggi imānnya daripada yang tadi sebelumnya.

√ Ada yang lihat kaleng di jalan senang-senang, "Oh, saya tunggu ada yang terkena kaleng tersebut."

Oleh karenanya dalam satu amalan orang bisa bertingkat-tingkat, tidak sama.

Inilah sekilas tentang 'aqidah ahlussunnah wal jama'ah bahwasannya imān itu terdiri atas perkataan, amalan hati dan perbuatan.

Contohnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا.......

_"Sesungguhnya orang-orang yang berimān yang tatkala disebutkan nama-nama Allāh, maka akan tergetar hati-hati mereka dan ketika dibacakan ayat-ayat Allāh maka bertambah keimānan mereka dan kepada Rabb mereka bertawakkal. Dan mereka juga mendirikan shalāt dan juga memberikan nafkah dari rezeki yang mereka miliki. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar berimān ....."_

(QS  Al Anfāl : 2-4)

⇒ Ini menunjukkan bahwasannya shalāt amalan badan juga merupakan imān.

Dalam ayat yang lain kata Allāh:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

_"Allāh tidak akan menyia-nyiakan imān kalian, (yaitu) shalāt kalian."_

(QS Al Baqarah:143)

⇒ Ayat ini turun tatkala terjadi perubahan kiblat.

Kiblat, waktu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sallam ke Madīnah, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam shalātnya menghadap ke Baitul Maqdis (kalau di Madīnah menghadap ke Selatan), Baitul Maqdis kearah Utara.

Akhirnya setelah belasan bulan (sekitar 16 bulan kalau tidak salah) maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla merubah kiblat dari utara (Baitul Maqdis) menuju ke Ka'bah, sehingga timbul pertanyaan dari para shahābat.

Bagaimana dengan saudara-saudara ktia yang tadinya shalāt menghadap Baitul Maqdis, apakah shalāt mereka sia-sia?

Maka Allāh menjawab:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

_"Allāh tidak akan menyia-nyiakan imān mereka."_

⇒ Maksud imān mereka adalah shalāt mereka.

Shalāt mereka yang tadinya menghadap Baitul Maqdis tetap bernilai di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini semua dalīl bahwasanya amalan tubuh juga merupakan keimānan.

Sampai di sini saja, apa yang bisa saya sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-----------------------------------

HADITS KEDUA ARBA'IN NAWAWI - FAEDAH-FAEDAH HADITS (BAGIAN 1 DARI 5)

HADITS KEDUA ARBA'IN NAWAWI - FAEDAH-FAEDAH HADITS (BAGIAN 1 DARI 5)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 02 Rabi’ul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Faedah Hadits Jibril (Bagian 01 dari 05)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0207
-----------------------------------

*HADITS KEDUA ARBA'IN NAWAWI - FAEDAH-FAEDAH HADITS (BAGIAN 1 DARI 5)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم  صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأخوان

In Syā Allāh kita melanjutkan pembahasan faedah-faedah yang bisa diambil dari hadīts Jibrīl, di mana Jibrīl 'alayhissalām menjelma menjadi seorang manusia (Arab Badui), kemudian mendatangi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan bertanya tentang beberapa perkara.

Jibrīl 'alayhissalām bertanya tentang Islām, Imān, kapan datang hari kiamat dan bertanya tentang tanda-tanda hari kiamat.

Kemudian di akhir hadīts, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata kepada 'Umar:

يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟

_"Wahai 'Umar, tahukah engkau siapa tadi yang bertanya?"_

Maka 'Umar berkata:

قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ

_"Aku tidak tahu, Allāh dan Rasūl-Nya yang lebih mengetahui."_

Maka kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ

_"Sesungguhnya yang datang tadi adalah Jibrīl, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian perkara-perkara agama kalian."_

Telah kita sebutkan bahwasannya hadīts ini dikenal oleh para ulamā dengan Ummu Sunnah (yaitu) induknya hadīts-hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Seakan-akan, seluruh hadīts-hadīts Nabi yang ada adalah penjelasan atau penjabaran dari hadīts ini, karena hadīts ini mengandung pokok-pokok ushuluddin. Seluruh perkara-perkara agama tercantum (termaktub) dalam hadīts ini.

Di antaranya yang ditanyakan oleh Jibrīl 'alayhissalām. Jibrīl 'alayhissalām berkata:

يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ

_"Wahai Muhammad kabarkanlah kepadaku apa itu Islām."_

Maka apa jawaban Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?

اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ  وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan 5 (lima) perkara yang dikenal dengan rukun Islām.

Yaitu:

⑴ Engkau bersaksi bahwasannya tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allāh dan Aku adalah Rasūlullāh.

⑵ Engkau menegakkan shalāt.

⑶ Engkau membayar zakāt.

⑷ Engkau melaksanakan puasa

⑸ Dan engkau berhaji jika engkau mampu.

Kemudian Jibrīl bertanya tentang imān.

يَا مُحَمَّد فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ

_"Yā Muhammad, Kabarkanlah kepadaku tentang imān."_

Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan tentang 6 (enam) rukun Imān.

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

⑴ Engkau berimān kepada Allāh.
⑵ Engkau berimān kepada malāikat-malāikat-Nya.
⑶ Engkau berimān kepada kitāb-kitāb yang  Allāh turunkan.
⑷ Engkau berimān kepada para Rasūl-rasūl-Nya,
⑸ Engkau berimān kepada hari kebangkitan dan
⑹ Engkau berimān kepada taqdir (taqdir yang baik maupun taqdir yang buruk).

Ada faedah yang kita ambil dari hadīts ini. Dan hari ini pembahasannya agak pelik, oleh karenanya butuh konsentrasi.

Karena kita akan membahas apa itu imān, apa itu Islām.

Nanti masalah ada firqah-firqah yang sesat dalam hal ini seperti jahmiyah kemudian mu'tazilah, kemudian khawarij, kemudian kita akan menyinggung tentang masalah takfīr. Oleh karenanya butuh konsentrasi.

Pembahasan yang pertama tentang apa perbedaan antara Islām dan Imān.

Para ulamā menjelaskan bahwasannya Islām dan imān jika berkumpul maka berpisah dan jika berpisah maka berkumpul.

Apa maksudnya?

Dua lafal ini, kalau  bergabung dalam satu dalīl, dalam satu nash, dalam satu teks, maka berpisah, (maksudnya) masing-masing punya makna sendiri.

Contohnya dalam hadīts Jibrīl ini. Di dalam hadīts Jibrīl, kalimat Islām ditanyakan oleh Jibrīl kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, kemudian Jibrīl bertanya tentang imān.

Tatkala digabungkan dalam satu konteks berarti Islām punya makna sendiri dan imān punya makna sendiri.

Akan tetapi jika dua-duanya berpisah maka bergabung, (maksudnya) jika ternyata dalam satu nash hanya disebutkan Islām saja maka Islām itu sama dengan imān. Atau dalam satu dalīl hanya disebutkan imān saja maka imān itu sama dengan Islām.

Oleh karenanya saya ulangi kaedahnya:

إذا اجتمعا افترقا، وإذا افترقا اجتمعا

_*Kalau sedang bergabung mereka berpisah (maknanya masing-masing sendiri), tetapi kalau mereka berpisah (hanya disebutkan satu) maka satu sama dengan yang lain, tidak ada bedanya.*_

⑴ Contohnya tatkala mereka sedang berpisah, hanya disebutkan satu saja, (yaitu) firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla  dalam QS. Āli 'Imrān : 85:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

_"Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islām, maka Allāh tidak akan menerima darinya. Dan dia akhirat kelak dia termasuk orang-orang yang merugi."_

⇒ Di sini disebut Islām, tetapi masuk di dalamnya imān, tidak ada bedanya (Islām ya imān).

⑵ Contohnya dalam ayat yang lain yang maknanya sama.

Dalam ayat lain kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam QS. Al Maidāh: 5:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

_"Barangsiapa yang kufur kepada keimānan maka telah gugurlah seluruh amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi (masuk neraka jahannam)."_

⇒ Imān di sini maknanya sama dengan Islām.

Oleh karenanya terkadang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menafsirkan imān dengan Islām atau Islām dengan imān tatkala datang sendiri-sendiri.

Contohnya:

Dalam hadīts Ibnu Abbās dalam shahīh Bukhāri nomor 87, dari Abdul Qais.  Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata kepada mereka:

أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ )عَزَّ وَجَلَّ( وَحْدَهُ

_"Aku memerintahkan mereka untuk berimān kepada Allāh ‘Azza wa Jalla saja."_

هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ

_(Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:) "Tahukah kalian apa itu berimān kepada Allāh saja?"_

Mereka mengatakan, "Kami tidak tahu."

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

"Berimān kepada Allāh artinya:

شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَتُعْطُوا الْخُمُسَ مِنْ الْمَغْنَمِ."

Di sini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menafsirkan imān dengan perkara-perkara yang zhāhir (yaitu) bersaksi bahwasannya tidak ada sembahan yang disembah kecuali Allāh, bahwasannya Muhammad Rasūlullāh, menegakkan shalāt dan membayar zakāt, berpuasa serta memberi seperlima dari harta rampasan perang.

Ini tatkala imān disebutkan sendiri maka imān sama dengan Islām.

⇒ Demikian juga tatkala Islām disebutkan sendiri maka Islām sama dengan imān.

Dalam hadīts yang lain tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya,  "Wahai Rasūlullāh, Islām apa yang paling afdhal?"

Kata Nabi:
الإِيمَانُ بِاللَّهِ

_Imān kepada Allāh._

⇒ Berarti Islām sama dengan imān.

Tetapi tatkala dua-duanya digabungkan maka berpisah maknanya masing-masing.

Contohnya hadīts Jibrīl ini.

Kata para ulamā, jika Islām dan imān digabungkan maka Islām berkaitan dengan perkara-perkara yang zhāhir dan imān berkaitan dengan perkara-perkara yang bathin.

Oleh karenanya tatkala malāikat Jibrīl bertanya:

أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ

_Kabarkanlah kepadaku tentang Islām._

Maka Nabi menyebutkan rukun Islām. Rukun Islām berkaitan dengan zhahir. Syahādatain, lafal, kemudian shalāt kemudian zakāt, puasa dan haji, semua perkara zhāhir.

Tatkala ditanya tentang keimānan, maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan tentang perkara-perkara imān, yang berkaitan dalam hati.

√ Berimān kepada Allāh,
√ Berimān kepada malāikat,
√ Berimān kepada kitāb-kitāb,
√ Berimān kepada para rasūl,
√ Berimān kepada hari kiamat,
√ Berimān kepada taqdir.

Ini semua masalah bathin.

Oleh karenanya diantara do'a tatkala kita mendo'akan mayat, kita berdo'a:

اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اَلْإِسْلَامِ, وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اَلْإِيمَانِ

_"Yā Allāh, barangsiapa di antara kami yang Kau hidupkan maka hidupkanlah di atas Islām dan barangsiapa yang Kau wafatkan diantara kami maka wafatkanlah dia di atas keimānan."_

⇒ Karena Islām yang kita nilai zhāhirnya.
⇒ Karena kalau sudah meninggal sudah tidak bisa shalāt, tidak bisa bayar zakāt, tidak bisa puasa.

Yang kita bawa imān di hati untuk bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam QS. Asy Syu'āra' : 88-89.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ* إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

_"Hari di mana hari kiamat tidak bermanfaat anak-anak dan harta. Kecuali orang yang bertemu dengan Allāh dengan membawa hati yang bersih."_

Ini tatkala imān dan Islām digabungkan maka imān berkaitan dengan masalah hati dan Islām berkaitan dengan masalah zhāhir.

Dalam Al Qur'ān juga Allah mengatakan:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

_"Semuanya orang Islām laki-laki muslim demikian juga para wanita muslimah demikian juga laki-laki mukmin dan para wanita mukminah."_

(QS Al Ahzāb: 35)

Di sini Allāh menggabungkan, berarti berbeda antara maknanya.

⇒ Kaedahnya jika bergabung berpisah, jika berpisah bergabung.

Lihatlah bagaimana para ulamā, mereka membuat kaedah-kaedah untuk memudahkan kita memahami.

Ini kaedah dirumuskan oleh para ulamā agar kita mudah memahami nash-nash dalam Al Qur'ān dan hadīts, agar kita tidak salah paham.

Dan thariqah seperti ini bahwasannya jika bergabung dia berpisah jika berpisah dia bergabung, banyak dalam syariat.

Contohnya seperti:

   البرّوالتقوى

_Al birr dan taqwa._

Al birr kalau disebutkan sendiri maka dia mencakup ketaqwaan, demikian juga kalau ketaqwaan disebut sendiri maka dia mencakup al birr.

Tetapi jika digabungkan antara birr dan taqwa, contohnya:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

_"Saling tolong menolonglah kalian di antara birr dan ketaqwaan."_

Al birr artinya amalan kebajikan dan ketaqwaan artinya amalan menjauhkan diri dari maksiat (menjauhkan diri dari dosa-dosa). Ini tatkala digabungkan.

⇒ Tatkala digabungkan memiliki makna masing-masing.

Contohnya lagi faqīr dan miskin.

Faqīr dan miskin, kalau disebut faqīr saja maka faqīr ya miskin (sama saja maknanya).  Kalau disebut miskin saja dalam dalīl, miskin itu ya faqīr juga.

Tetapi jika digabungkan antara faqīr dan miskin, dalam dalīl (dalam Al Qur'ān atau dalam hadīts), maka faqīr lebih parah daripada miskin.

Sebagian ulamā menyatakan faqīr adalah orang yang tidak punya apa-apa. Adapun miskin adalah orang yang punya sesuatu namun tidak mencukupi. (Ini tatkala digabungkan)

Ada yang mengatakan faqīr adalah tidak punya namun dia tidak minta. Dia malu untuk meminta. Dia punya harga diri (ini faqīr). 

Adapun miskin, dia tidak punya dan dia berani untuk minta.

Yang lebih parah (lebih susah) yang mana? Yang faqīr.

Karena orang tidak tahu ternyata dia butuh,  kalau miskin dia minta maka ketahuan. Yang faqīr dia tidak minta akhirnya tidak ketahuan.

Intinya tatkala faqīr dan miskin digabungkan bersama-sama maka maknanya masing-masing ada. Tetapi kalau dipisahkan maka yang satu sama dengan yang lainnya.

Saya ingatkan majelis ilmu adalah majelis yang berkah. Dan terkadang, tidak semua orang bisa menjadi ulamā, tidak semua orang bisa jadi ustadz, karena butuh belajar, butuh mikir.

Tidak hanya duduk kemudian pengajian, tidak!  Dia butuh belajar, butuh berpikir, butuh mencatat, butuh muraja'ah, butuh mengulangi, butuh menghafal ini dan menghafal itu.

Adapun kalau semua orang menjadi ustadz tanpa belajar, timbullah ustadz-ustadz karbitan. Yang tadinya penjahat sekarang jadi ustadz top.

Ini seharusnya dia tahu dan dia malu pada diri sendiri. Dia tidak pantas untuk kemudian berbicara tentang agama panjang-lebar, sementara dia tidak punya kapasitas akan hal itu.

Karena barangsiapa yang tidak punya ilmu akhirnya dia akan berfatwa dengan hal-hal yang menyesatkan ummat manusia.

Sampai di sini saja, apa yang bisa saya sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-----------------------------------

DAKWAH SEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN (BAGIAN 6 DARI 6)

DAKWAH SEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN (BAGIAN 6 DARI 6)

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 29 Shafar 1439 H / 18 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 08 |Dakwah Secara Sembunyi Dan Terang-Terangan (Bag. 6 dari 6)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0806
~~~~~~~~~~~~~~~

*DAKWAH SEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN (BAGIAN 6 DARI 6)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم  صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأخوانه

Para ulamā menyebutkan hikmah Allāh menyuruh Nabi mendakwahi kerabat dekat:

⑴ Seorang da'i secara tabi'at dia lebih cinta kepada kerabatnya.

⑵ Yang namanya karib kerabat lebih mendengar dan mau menerima dakwah karena mereka mengenal kita.

⑶ Karib kerabat memiliki hak lebih besar dibanding orang lain untuk kita dakwahi.

⑷ Kalau karib kerabat menerima dakwah kita maka kita akan kokoh.

Kisah Nabi Luth ketika dimusuhi kaumnya,  berkata:

"Wahai kaumku, kalau seandainya aku memiliki kekuatan untuk menolak kalian maka aku akan tolak. Seandainya saya bersandar kepada kerabat saya yang kuat, namun aku tidak memiliki kerabat."

Akhirnya Nabi Lūth ditolong oleh Allāh dengan malāikat.

Begitu juga dengan kisah Nabi Syu'aib yang ingin dirajam oleh kaumnya, lalu mereka berkata:

"Kalau bukan karena kabilahmu, wahai Syu'aib maka kami akan melemparmu dengan batu."

Inilah diantara hikmahnya Nabi berasal dari kabilah yang kuat (Bani Hāsyim), kabilah yang tatkala itu paling top di antara orang-orang Quraisy

Sehingga banyak yang membela Nabi Muhammad, bahkan saat mereka masih dalam kekufuran. Diantaranya adalah Abū Thālib yang meninggal dalam keadaan kāfir namun tetap membela Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Maka akhirnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berdakwah dengan terang-terangan dan ternyata dimusuhi oleh pamannya (Abū Lahab). Dan disebutkan bagaimana Abū Lahab terus mengikuti Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam dakwah.

Bahkan disebutkan, tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berdakwah di musim haji, saat orang-orang berkumpul dari berbagai macam kabilah, saat itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendakwahi satu persatu. Setiap mendakwahi, Abū Lahab datang dari belakang dan berkata, "Jangan ikuti, dia keluar dari agama nenek moyangnya."

Lalu ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pergi ke kabilah lain untuk mendakwahi maka pamannya mengekor lagi.

Dan ini suatu yang sangat menyakitkan, yang memusuhi dakwah kita adalah paman kita sendiri.

Namun tidak pernah disebutkan kalau Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membantah pamannya, Beliau terus saja berdakwah.

Oleh karenanya, tatkala seseorang berdakwah maka akan ada orang yang mengganggu dan menjatuhkan.

Namun, tidak semua tuduhan harus dibantah, karena kalau demikian maka dakwahnya akan terganggu karena gangguan dan tuduhan tidak akan pernah selesai.

Oleh karenanya kata Imām Syāfi'ī rahimahullāh:

رضى الناس غاية لا تدرك

_"Mencari keridhāan manusia adalah suatu hal yang mustahil untuk didapat."_

Tidak mungkin kita berdakwah kemudian semua orang akan menerima dan mencintai kita, mustahil. Pasti akan ada orang yang tidak suka, merasa diusik, disaingi, membenci. Tapi terkadang kita perlu membantah kritikan tersebut kalau kita rasa ada manfaatnya.

Sebagian orang mengatakan, "Kenapa rusa bisa ditangkap oleh macan? Padahal rusa larinya lebih cepat dari macan."

Karena rusa itu selalu melihat ke belakang melihat macannya sudah dekat atau masih jauh sehingga akhirnya tertangkap. Makanya, jika ada kritikan dalam dakwah berarti kita punya pengaruh.

Jika tidak ada kritik maka kita tidak dianggap dan dicuekin. Makanya kalau ada kritik kita dengarkan, kritik yang bagus atau tidak. Kalau bagus kita terima dan kalau tidak bagus maka kita lanjut terus berdakwah.

Inilah awal dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam secara terang-terangan dan mulai nampak permusuhan.

Dan  In Syā Allāh besok akan kita jelaskan bagaimana permusuhan yang akan dilakukan oleh orang-orang kāfir Quraisy terhadap Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, baik permusuhan secara fisik maupun secara perkataan.

Wallāhu Ta'āla A'lam.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

DAKWAH SEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN (BAGIAN 5 DARI 6)

DAKWAH SEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN (BAGIAN 5 DARI 6)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 28 Shafar 1439 H / 16 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 08 |Dakwah Secara Sembunyi Dan Terang-Terangan (Bag. 5 dari 6)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0805
~~~~~~~~~~~~~~~

*DAKWAH SEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN (BAGIAN 5 DARI 6)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم  صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأخوانه

Kita masuk pada poin berikutnya yaitu "Dakwah secara terang-terangan".

Telah kita jelaskan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdakwah selama 3 atau 4 tahun secara diam-diam dan mendakwahi orang yang dekat dengan beliau.

Sampai akhirnya Allāh memerintahkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk dakwah terang-terangan setelah 3 tahun  Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdakwah.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla turunkan Firman-Nya:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

_"Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang dekat."_

(QS Asy Syu'arā: 24)

Sebenarnya orang-orang Quraisy sudah merasa bahwa ada orang yang mengikuti agama Islām.

Misal:

⇒ Melihat Bilāl shalāt, tetapi orang-orang Quraisy tidak menganggap itu suatu masalah.

Kenapa?

Karena di zaman itu juga ada orang-orang yang berada di atas millāh hanifiyyah, yang mereka mengikuti agama Ibrāhīm 'alayhissalām dan tidak menyembah berhala dan tidak melakukan kesyirikan.

Di antara orang-orang tersebut adalah Waraqah bin Naufal, Umayyah bin Abi Sofyan, Zaid bin Amr bin Naufal.

Namun, mereka menganggap dakwah mulai menjadi masalah tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mendakwahkan dan menyuruh untuk meninggalkan kesyirikan, yaitu mulai mengatur aturan mereka (misalnya) menurunkan aturan hukum Islām.

Adapun saat masing-masing sibuk sendiri dengan ibadahnya maka tidak mengapa.

Oleh karenanya ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mulai berdakwah secara jahriyyah maka mulai dianggap suatu masalah.

Disebutkan bahwa di akhir dakwah Jahriyyah, ada sekitar 40 orang atau 60 orang yang masuk Islām, akan tetapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mau menyebutkan nama-nama mereka karena kasihan. Di antara mereka ada yang orang-orang miskin yang jika ketahuan maka akan dimusuhi.

Oleh karenanya saat ada orang bernama 'Amr bin 'Abasah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, seorang shahābat yang masuk Islām, tatkala dia datang dari negeri yang jauh untuk datang ke Mekkah kemudian mencari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Dan setelah bertemu dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka dia berkata:

"Siapakah kamu?"

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Aku adalah seorang Nabi."

'Amr: "Apa itu Nabi?"

Nabi: "Allāh telah mengutusku."

'Amr: "Allāh mengutusmu dengan membawa apa?"

Nabi: "Allāh mengutusku untuk menyambung silaturahmi, menghancurkan patung-patung dan agar Allāh ditauhīdkan dan tidak disyirikkan sama sekali."

'Amr: "Siapa yang mengikuti agamamu?"

Nabi: "Bersamaku seorang budak dan seorang merdeka."

'Amr: "Saya tidak melihat tatkala itu kecuali Abū Bakr Ash-Shiddīq dan Bilāl."

Di sini, Nabi tidak menyebutkan semua yang masuk Islām, walaupun akhirnya nanti ketahuan sehingga ada yang dibunuh, ditangkap.

Padahal secara logika, kalau Nabi berkata, "Orang yang sudah masuk Islām sudah 40 atau 60 orang," maka bisa membuat 'Amr tertarik. Tetapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mengenal 'Amr karena 'Amr adalah orang di luar Arab.

Akhirnya dia tertarik kepada Islām dan masuk Islām dan dia ingin berdakwah menolong Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, tetapi kata Nabi tidak boleh dan diperintahkan untuk berdakwah saja di kampungnya.

Kenapa?

Karena 'Amr bin 'Abasah adalah bukan orang Arab, apabila dia disakiti maka siapa yang akan menolongnya?

Maka akhirnya dia pulang ke kaumnya dan kaumnya menerima sehingga banyak yang masuk Islām.

Maka tatkala Allāh menyuruh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk berdakwah secara terang-terangan, kata 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā:

"Saat turun ayat wa andzir 'asyīratakal aqrabīn."

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam langsung berdiri dan berkata:

يَا فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ يَا صَفِيَّةُ بِنْتَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا سَلُونِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتُ

_"Wahai Fāthimah bintu Muhammad, wahai Shafiyyah bintu 'Abdil Muththālib, wahai anak-anaknya 'Abdul Muththālib, aku tidak bisa menolong kalian (di akhirat) sama sekali, jika ingin harta maka akan aku berikan."_

(HR Muslim nomor 205)

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata:

لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ{ وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ }
دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ فَقَالَ يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي هَاشِمٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا

_Saat turun ayat "wa andzir 'asyīratakal aqrabīn" maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyeru orang-orang Quraisy, maka merekapun berkumpul dan berkata:_

_"Wahai Bani Ka'ab bin Luay, selamatkan diri kalian dari neraka Jahannam._

_Wahai Bani Murrah, selamatkanlah diri kalian dari neraka Jahannam._

_Wahai Bani Abdi Syamsy, selamatkanlah diri kalian dari neraka Jahannam._

_Wahai Bani Abdi Manāf, selamatkanlah diri kalian dari neraka Jahannam._

_Wahai Bani Hāsyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka Jahannam._

_Wahai Bani Abdul Muththālib, selamatkanlah diri kalian dari neraka Jahannam._

_Wahai Fāthimah, selamatkanlah dirimu dari neraka Jahannam, karena sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian."_

(HR Muslim nomor 204)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan dari yang umum ke khusus. Dan sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas, kisah ini masyhur, banyak yang meriwayatkan, diantaranya adalah 'Āisyah, Abū Hurairah sedangkan Ibnu 'Abbas menjelaskan dengan sedikit detail tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berdakwah pertama kali secara terang-terangan.

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ } وَرَهْطَكَ مِنْهُمْ الْمُخْلَصِينَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى صَعِدَ الصَّفَا فَهَتَفَ يَا صَبَاحَاهْ فَقَالُوا مَنْ هَذَا الَّذِي يَهْتِفُ قَالُوا مُحَمَّدٌ فَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ فَقَالَ يَا بَنِي فُلَانٍ يَا بَنِي فُلَانٍ يَا بَنِي فُلَانٍ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا تَخْرُجُ بِسَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ قَالَ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ أَمَا جَمَعْتَنَا إِلَّا لِهَذَا ثُمَّ قَامَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَقَدْ تَبَّ

_Tatkala turun ayat ("Berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat yaitu kaum kerabatmu yang benar-benar ikhlas." Qs. Asy Syu'ara`: 214). Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menaiki Bukit Soffa lalu berteriak:_

_"Wahai saudara-saudara."_

_Sebagian mereka tertanya, "Siapakah yang berteriak." Sebagian mereka menjawab, "Muhammad."_

_Ketika mereka berkumpul, beliau bersabda:_

_"Wahai bani fulan! bani fulan! bani fulan! Wahai bani Abdul Manaf! Wahai bani Abdul Muththalib!"_

_Tatkala mereka telah menghampiri beliau, beliau bersabda:_

_"Apakah pendapat kalian apabila aku mengabarkan bahwa sekelompok pasukan berkuda akan keluar melalui kaki bukit ini untuk menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?"_

_Mereka menjawab:_

_"Kami tidak pernah mendapatimu berdusta."_

_Beliau bersabda lagi:_

_"Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian tentang azab yang pedih."_

_Maka Abu Lahab pun mencela:_

_"Celaka kamu! Apakah hanya karena ini kamu mengumpulkan kami?"_

_Setelah dia berlalu, turunlah surat ("Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan celaka.")_

_Demikianlah Al A'masy membaca hingga akhir surat._

(HR Muslim nomor 208)

Tatkala turun firman Allāh, "Berilah peringatan kepada keluarga yang terdekat."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar dari rumahnya kemudian naik di Jabal Shafa kemudian berkata, "Yā shabāhāh (ada bahaya, panggilan kepada orang Arab untuk memperingatkan bahaya)."

Orang-orang kāfir Quraisy dahulu tatkala mereka ingin memperingatkan kepada suatu bahaya, mereka naik ke atas gunung, kemudian mereka buka baju mereka, kemudian melemparkan pasir ke wajah mereka sambil berteriak, "Yā sabāhāh."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menggunakan metode tersebut tetapi tidak membuka baju dan tidak melempar pasir ke kepala karena ini adalah adat Jāhilīyyah.

Para ulamā menjelaskan terkadang kita boleh mengikuti tradisi, apabila tradisi itu benar dan tidak bertentangan dengan syari'at Islām dan ada manfaatnya dan tidak dikatakan tasyabuh.

Contohnya:

√ Tatkala perang khandaq kaum muslimin akan dikepung oleh sekitar 10.000 pasukan, bekerja sama antara orang-orang Badui dan suku Quraisy dan juga orang-orang munāfiq.

Tatkala itu Salman Alfarizi memberi ide untuk membuat khandaq (parit yang besar lebarnya 4 meter dalamnya 4 meter) agar tidak bisa dilewati oleh kuda.

Ini kebiasaan adat yang dilakukan oleh orang-orang Persia tatkala mereka terdesak. Namun karena ini bermanfaat maka tradisi itu diambil oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Siapa yang mengajarinya? Salman Alfarizi orang Persia.

√ Tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengirim surat kepada Heraclius, kepada kaisar Romawi, kepada Qishrah raja Persia, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala ingin mengirim surat, mereka mengatakan, "Tidak akan diterima surat tersebut harus diberi tanda (stempel)." Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membuat cincin yang tertulis "Muhammad Rasūlullāh".

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membuat cincin untuk mengikuti tradisi mereka karena mereka tidak akan terima surat tersebut kalau tidak ada capnya.

Ini perkara duniawi, selama dia bermanfaat maka tidak dikatakan tasyabuh.

Oleh karenannya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memanfaatkan tradisi orang-orang Arab dahulu (Jāhilīyyah) ketika ingin mengumpulkan masyarakatnya, kemudia naik keatas gunung dan berteriak, "Yā shabāhāh."

Maka berkumpullah seluruh orang-orang kāfir Quraysh tatkala itu dan bertanya, "Siapa yang berteriak?"

Lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

"Wahai kaum Quraisy, kalau saya kabarkan kepada kalian bahwa di balik gunung ini ada pasukan berkuda ingin menyerang kita, apakah kalian akan membenarkan perkataanku?"

Kata mereka, "Kami tidak pernah tahu engkau berdusta sama sekali, yang kami tahu engkau adalah seorang yang jujur."

"Kalau begitu saya ingatkan kepada kalian dengan adzab yang pedih yang ada di hadapan kalian kalau kalian tetap di atas kesyirikan kalian."

Maka Abū Lahab marah dan berkata, "Celakalah engkau wahai Muhammad, engkau kumpulkan kita hanya untuk ini?"

Kemudian Abū Lahab berdiri dan turunlah ayat "Tabbat yadā abi lahabiw watabb (celaka ke-2 tangan Abū Lahab)", sampai selesai.

Abū Lahab masuk neraka, istrinyapun masuk neraka. Istrinya suka mencela Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, Allāh sebutkan dia dan istrinya masuk neraka jahannam.

Dan ini kata para ulamā adalah mu'zijāt dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Allāh tidak pernah memvonis orang-orang Quraisy masuk neraka kecuali Abū Lahab.

Disebutkan namanya Abū Lahab akan masuk neraka, Abū Jahal saja disebutkan dalam Al Qur'ān atau tidak? Tidak.

Abū Lahab di awal dakwah sudah Allāh vonis dia masuk neraka jahannam dan benar dia tidak akan berimān kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Padahal pada zaman itu banyak orang yang memusihi Nabi akhirnya mereka masuk Islām. Allāh sudah taqdirkan Abū Lahab tidak masuk Islām, maka sejak awal dakwah Allāh sudah mengatakan dia akan masuk neraka jahhannam, dan ini benar, ini adalah mu'zijāt Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Demikian saja.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------