Laman

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH (BAGIAN 5)

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH  (BAGIAN 5)



🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 09 Sya’ban 1441H / 03 April 2020M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kajian Tematik | 10 Wasiat Perlindungan Diri Dari Wabah (Bagian 05)
⬇ Download audio: bit.ly/10Wasiat-05
〰〰〰〰〰〰〰

*10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH, BAGIAN 5*


بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh.

Kita hidup di dunia ini tentu sudah tahu bahwa dunia adalah medan ujian kita. Dimana kita akan diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, entah dengan kelapangan entah dengan kesusahan.

Semua itu akan menjadi kebaikan bagi seorang yang beriman. Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sudah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

_“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2999)

Di dalam penutup ini, Syaikh Abdurrazaq mengatakan bahwa ketika musibah menimpa seseorang hendaknya seorang muslim itu bersungguh-sungguh menerimanya dengan kesabaran dan mengharapkan pahala, karena Allāh telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang bersabar.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:  

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ

_"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”_ 

(QS Az Zumar: 10) 

Dahulu Āisyah radhiyallāhu 'anhā pernah bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang wabah tha'un, lalu Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

_"Sesungguhnya tha'un itu dahulunya merupakan adzab yang Allāh kirim kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Kemudian Allāh menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka itu, tidaklah seorang hamba berada di suatu negeri yang tersebar padanya wabah tha'un, lalu ia tetap menetap di sana dengan penuh kesabaran, ia yakin bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allāh tetapkan baginya, melainkan baginya pahala seperti orang yang mati syahid."_

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 5734)

Kalau 4 hal ini terpenuhi pada seorang muslim yaitu:

⑴ Tetap tinggal di daerah tersebut. 
⑵ Bersabar.
⑶ Mengharap pahala dari Allāh.
⑷ Dia yakin dan tahu bahwa tidak akan menimpanya kecuali yang telah Allāh tetapkan maka ia akan mendapatkan pahala syahid.

Ibnu Hajar rahimahullāh menyatakan berkaitan dengan orang yang memenuhi empat syarat di atas, dia akan diberikan pahala mati syahid,

اقتضى منطوقه أن من يتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد و إن لم يمت

_"Sesuai dengan apa yang terucap dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang sesuai mantuqnya, siapa yang bersifat dengan sifat-sifat yang disebutkan maka dia memperoleh pahala syahid walaupun dia tidak meninggal dunia."_

Walaupun dia tidak meninggal dunia gara-gara wabah ini, jika dia memenuhi empat syarat ; tetap tinggal di daerah tersebut, bersabar, kemudian mengharap pahala dari Allāh, dia yakin dan tahu bahwa itu sudah merupakan ketetapan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tidak akan menimpanya kecuali yang telah Allāh tetapkan, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.

Apapun yang menimpa kita, kita harus mengembalikan urusan kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan selalu memilih jalan yang terbaik untuk kita bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat. 

Kita raih pahala pada setiap apa yang menimpa diri kita, baik itu kebaikan maupun keburukan. Baik itu kelapangan atau kesempitan. Baik itu kekayaan atau kemiskinan. Semuanya akan mendatangkan kebaikan bagi seorang mukmin.

Semoga pembahasan kitāb 10 wasiat perlindungan diri dari wabah ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishawāb. 

وصلى الله على نبينا محمد
____________________

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH (BAGIAN 4)

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH (BAGIAN 4)



🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 08 Sya’ban 1441H / 02 April 2020M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kajian Tematik | 10 Wasiat Perlindungan Diri Dari Wabah (Bagian 04)
⬇ Download audio: bit.ly/10Wasiat-04
〰〰〰〰〰〰〰

*10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH, BAGIAN 4*


بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang satu kitāb kecil yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr Hafīzhahullāh Ta'āla yang berjudul "10 Wasiat Perlindungan Diri dari Wabah".


• Wasiat Kedelapan | Senantiasa berbuat kebaikan 

Wasiat ini berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim, bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata: 

"Perbuatan-perbuatan yang baik itu akan menghindarkan pelakunya dari kematian yang buruk, begitu juga bisa menghindarkan dari berbagai penyakit dan bencana."

Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata:

“Di antara obat paling mujarab dalam memberantas penyakit adalah dengan berbuat kebaikan, berdzikir, berdo'a, permohonan bersungguh-sungguh sepenuh hati kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan bertaubat."

Kemudian beliau memberikan faedahnya: 

Beberapa amalan ini memiliki pengaruh yang lebih besar dalam menolak berbagai penyakit dan mendatangkan kesembuhan daripada berbagai obat alami. 

Namun manfaatnya atau pengaruhnya tergantung kepada kesiapan jiwa, penerimaan dan keyakinannya terhadap hal ini. (Kitāb Zadul Ma'ad)


• Wasiat Kesembilan | Mengerjakan shalāt malam

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ

_"Kerjakanlah shalāt malam, karena sesungguhnya ia merupakan kebiasaan orang-orang shālih sebelum kalian. Sesungguhnya shalāt malam dapat mendekatkan diri kepada Allāh, mencegah dari perbuatan dosa, menggugurkan keburukan-keburukan dan mengusir penyakit dari tubuh manusia."_

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3549)

Sebagian dokter mengatakan shalāt malam itu bisa membangkitkan enzim-enzim yang bisa memperkuat imun dan daya tahan tubuh kita.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan shalāt malam bisa menolak penyakit dari tubuh manusia dan secara ilmiyyah shalāt malam bisa menguatkan sistem kekebalan tubuh manusia.


• Wasiat Kesepuluh | Menutup tempat makanan dan minuman 

Ini juga merupakan wasiat yang sangat penting sekali. Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullāh mengatakan banyak ilmu kedokteran yang terlewatkan dari ilmu yang ada dalam hadīts ini.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ

_"Tutuplah wadah makanan dan rapatkanlah bejana minuman, karena sesungguhnya dalam setahun ada satu malam dimana wabah akan turun padanya. Tidaklah wabah itu melewati wadah makanan yang tidak ditutup dan bejana minuman yang tidak dirapatkan melainkan ia akan masuk ke dalamnya."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2014)

Maka kita perlu untuk menutup tempat makanan dan minuman kita sehingga kita bisa mengamalkan hadīts nabi ini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishawāb. 

وصلى الله على نبينا محمد
__________________

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH ( BAGIAN 3)

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH ( BAGIAN 3)


🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 07 Sya’ban 1441H / 01 April 2020M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kajian Tematik | 10 Wasiat Perlindungan Diri Dari Wabah (Bagian 03)
⬇ Download audio: bit.ly/10Wasiat-03
〰〰〰〰〰〰〰

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH (BAGIAN 3)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang satu kitāb kecil yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr Hafīzhahullāh Ta'āla yang berjudul "10 Wasiat Perlindungan Diri dari Wabah".


• Wasiat Kelima | Mohon keselamatan kepada Allāh di pagi dan sore hari

Do'anya :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

_"Yā Allāh, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Yā Allāh, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Yā Allāh, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Yā Allāh, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku."_

Dahulu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan do'a ini di waktu pagi dan sore hari, sebagaimana dalam hadīts Abdullah Ibnu Umar ibnu Khaththāb radhiyallāhu 'anhumā sebagaimana disebutkan di dalam hadīts riwayat Ahmad dan Abū Dāwūd.


• Wasiat Keenam | Memperbanyak do'a 

Memperbanyak do'a, apapun, baik itu do'a untuk keselamatan diri sendiri, keselamatan keluarga, keselamatan bangsa dan negara dan siapa pun. Saudara seislam dan seiman bisa masuk dalam do'a-do'a tersebut.

Wasiat ini berdasarkan hadīts dari Ibnu Umar, ia berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ 

_"Barangsiapa yang telah dibukakan baginya pintu do'a, maka ia telah dibukakan pintu rahmat. Dan tidaklah Allāh dimintai sesuatu yakni yang lebih Dia cintai daripada dimintai keselamatan."_

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3548)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

_"Sesungguhnya do'a dapat memberikan manfaat dari sesuatu yang telah terjadi dan dari sesuatu yang belum terjadi, maka itu wahai hamba-hamba Allāh hendaklah kalian berdo'a."_

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3548)

Itulah dasar Syaikh Abdurrazaq mewasiatkan kita untuk memperbanyak do'a. 


• Wasiat Ketujuh | Menghindari Tempat-tempat tersebarnya wabah

Orang-orang yang  berada di daerah wabah tidak boleh keluar dan orang-orang yang berada di luar daerah wabah tidak boleh masuk ke dalamnya.

Sebagaimana hadīts dari Abdullāh bin Amir radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Umar bin Khaththāb radhiyallāhu 'anhu pernah bepergian menuju Syām. Ketika beliau sampai di daerah Sargh datang kabar kepada beliau bahwa telah tersebar wabah tha'un di Syām. 

Kemudian Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu 'anhu mengabarkan kepada beliau bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ 

_"Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu negeri maka janganlah kalian mendatanginya, dan apabila wabah tersebut berada di suatu negeri sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya."_

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 5730)

Ini adalah bimbingan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam agar kita tidak mendatangi tempat wabah dan orang-orang yang berada di tempat wabah tidak keluar dari tempat atau daerah tersebut.

Hadīts yang lain, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

_"Jangan kalian campurkan unta yang sakit dengan unta yang sehat."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim)

Inilah wasiat kelima, keenam dan ketujuh yang dibawakan oleh Syaikh Abdurrazaq rahimahullāh.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.


Wallāhu Ta'āla A'lam bishawāb. 


وصلى الله على نبينا محمد
____________________

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH (BAGIAN 02)

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH (BAGIAN 02)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 06 Sya’ban 1441H / 31 Maret 2020M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kajian Tematik | 10 Wasiat Perlindungan Diri Dari Wabah (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/10Wasiat-02
〰〰〰〰〰〰〰

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH (BAGIAN 02)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang kitāb kecil yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazaq Al-Badr Hafīdzahullāh Ta'āla, yang berjudul 10 wasiat perlindungan diri dari wabah.

• Wasiat Kedua | Memperbanyak do'a nabi Yunus alayhissalām 

Allāh Ta'āla menyebutkan kisah nabi Yunus ini di dalam surat Al-Anbiyyā ayat 87 sampai 88. Dimana ketika Nabi Yunus alayhissalām berada di dalam perut ikan paus, di tengah kegelapan malam, di tengah kegelapan samudera, di tengah kegelapan perut ikan yang tidak akan ada yang bisa menyelamatkan beliau. Nabi Yunus berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan do'a yang ringkas tetapi sangat bermakna:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

"Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhālim.” (QS Al-Anbiyyā:87)

Dengan do'a ini beliau diselamatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, dan di akhir ayat Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

"Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiyyā' :88) 

Terkait tafsir ayat وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ "Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. 

Al-Hafizh Ibnu Katsīr mengatakan maksud dari ayat ini adalah:

"Ketika orang-orang yang beriman tertimpa musibah mereka berdo'a dengan do'a ini seraya inabah, kembali bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla atas segala kekurangannya."

Ibnu Katsīr rahimahullāh mengatakan do'a ini semakin kuat efeknya ketika musibah telah datang menghampirinya.

Dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan, "Tidaklah seorang muslim berdo'a dengan do'a ini dalam suatu hajat melainkan Allāh pasti akan mengubahnya”."

(Hadīts riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzī)

Ibnul Qayyim rahimahullāh ketika menjelaskan rahasia do'a ini beliau mengatakan:

"Tidak ada yang melebihi tauhīd dalam menolak berbagai kesulitan dunia, atas dasar inilah do'a untuk menghilangkan kesusahan sering kali menggunakan tauhīd”.

Misalnya Do'a nabi Yunus, dalam kebuntuan beliau dibukakan jalan oleh Allāh sebab do'a tersebut, dimana do'a  tersebut berisi tauhīd. Kesyirikanlah yang menjerumuskan seseorang ke dalam kesusahan dan tauhīd lah yang menyelamatkan mereka dari kesusahan tersebut. 

Sehingga tauhīd merupakan amalan yang digunakan oleh seorang hamba untuk berlindung, bernaung, bertameng dan memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kalimat tauhīd dari do'a nabi Yunus:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ

"Tidak ada ilāh yang berhak untuk disembah kecuali Engkau." Itu kalimat tauhīd nya.

Jadi kita memperbanyak do'a ini:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

• Wasiat Ketiga | Memperbanyak do'a berlindung dari cobaan yang berat 

Do'a nya:

اللهمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

"Yā Allāh, Aku berlindung kepada-MU dari cobaan yang berat, kesengsaraan yang sangat, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh."

(Hadīts riwayat Al-Bukhāri dari Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu)

Abū Hurairah mengatakan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dahulu sering berlindung kepada Allāh dari cobaan yang berat, kesengsaraan yang sangat, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh.

Dalam riwayat lain :

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Beliau bersabda :

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

"Berlindunglah kalian kepada  Allāh dari bala yang berat, sebab-sebab kesengsaraan, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh."

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 6616)

• Wasiat Keempat | Senantiasa membaca do'a keluar rumah 

Do'a nya : 

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

"Dengan menyebut nama Allāh, aku bertawakal hanya kepada Allāh, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allāh semata."

Apabila seseorang membaca do'a ini maka akan dikatakan kepadanya,"Engkau telah mendapatkan petunjuk, diberikan kecukupan dan penjagaan." Syaitan-syaithan pun menjauhinya. Syaithan yang lain berkata kepada mereka,"Bagaimana bisa engkau menyesatkan orang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?"

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd) 

In syā Allāh, kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishawāb. 


وصلى الله على نبينا محمد
____________________

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH, BAGIAN 1

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH, BAGIAN 1


🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 05 Sya’ban 1441H / 30 Maret 2020M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kajian Tematik | 10 Wasiat Perlindungan Diri Dari Wabah (Bagian 01)
⬇ Download audio: bit.ly/10Wasiat-01
〰〰〰〰〰〰〰

*10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH, BAGIAN 1*


بسم الله 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الخلق و سيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. اما بعد 

Sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh.

Pada hari ini dan beberapa pertemuan ke depan, in syā Allāh kita akan membahas salah satu kitāb kecil yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr Hafīzhahullāh Ta'āla yang berjudul "10 Wasiat Perlindungan Diri dari Wabah".

Kitāb kecil ini beliau tulis ketika ada pendemi wabah corona yang sudah mendunia, sehingga beliau ingin mewasiatkan beberapa wasiat yang semoga wasiat ini bisa bermanfaat untuk kaum muslimin sebagai jalan untuk menjaga diri dari sisi rohani dan juga fisik.

Wasiat yang beliau sampaikan adalah:

• Wasiat Pertama | Berdo'a sebelum terjangkiti wabah

Wasiat ini beliau sebutkan berdasarkan sebuah hadīts dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau mengatakan:

"Barangsiapa membaca do'a ini tiga kali di waktu sore, maka dia akan dijaga ia tidak akan terkena musibah yang datang tiba-tiba sampai masuk waktu pagi. Dan apabila dia membaca do'a ini tiga kali di waktu pagi maka dia tidak akan terkena musibah yang datang tiba-tiba sampai masuk waktu sore."

Do'anya adalah: 

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

_"Dengan menyebut nama Allāh yang bila disebut nama-Nya, tidak akan ada sesuatu apapun di bumi dan di langit yang dapat membahayakan, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.”_

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 5088)

Dahulu, salah seorang tābi'in yaitu Abān bin Utsman, beliau adalah anak dari khalifah ke-3 (Utsman bin Affan radhiyallāhu 'anhu), meriwayatkan hadīts ini dari ayahnya Utsman bin Affan dan Utsman bin Affan meriwayatkan hadīts ini dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Setahun sebelum beliau (Abān bin Utsman) meninggal dunia, beliau menderita penyakit Hemiplegia atau lumpuh di sebagian  badannya.

Hemiplegia bisa lumpuh sebagian anggota geraknya, bisa tangannya, bisa kakinya bahkan bisa lumpuh sebagian wajahnya, yang mana hal ini membuat seseorang tidak bisa berdiri (kurang keseimbangan) dan bisa mengakibatkan seseorang buta.

Salah seorang, mungkin orang-orang di sekitar Abān bin Utsman, melihat Abān bin Utsman seakan-akan mengatakan:

"Ini ada seorang tābi'in yang meriwayatkan hadīts dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwa kalau dia membaca do'a ini 3 kali di waktu pagi tidak akan terbahayakan sampai masuk waktu sore, dan jika membaca di waktu sore sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa bala yang datang secara tiba-tiba di waktu pagi, tapi kenapa beliau tiba-tiba sakit terkena penyakit ini (Hemiplegia)." 

Seakan-akan orang tersebut mengatakan hal ini. 

Maka Abān bin Utsman mengatakan, "Demi Allāh, saya tidak berbohong atas nama ayah saya. Ayah saya pun tidak berbohong atas nama Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Abān bin Utsman mengatakan:

"Hadīts ini adalah benar, hanya saja hari ini saya tertimpa musibah ini, karena saya lupa tidak membaca do'a ini.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

"Saat itu beliau marah, sehingga lupa dengan do'a ini.”

Dan hal itu ditakdirkan oleh Allāh agar Allāh bisa menjalankan ketetapan-Nya, sehingga saya sakit seperti ini.

Sehingga, sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh, merupakan satu hal yang sangat penting untuk kita ingat dan perhatikan bersama bahwasanya do'a ini sangat penting sekali dan jangan sampai lupa membaca do'a ini tiga kali di waktu pagi dan sore hari.

Inilah wasiat beliau rahimahullāh yang pertama, in syā Allāh kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishawāb. 


وصلى الله على نبينا محمد
____________________

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 12 DARI 12)

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 12 DARI 12)

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 01 Jumadal Akhir 1439 H /17 Februari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 12 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0235
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 12 DARI 12)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

• Pertanyaan 01

Kalau mau membuat rumah, pergi ke kyai atau ustadz, untuk minta hari apa untuk mulai bikin rumah, apakah ini syirik ?

• Jawaban 01

Ngapain cari hari pertama bikin rumah harus hari ini. Inilah yang disebut dengan tathoyur, mengkait-kaitkan nasib dengan waktu. Tidak ada dalilnya jika membuat rumah harus hari ini, harus jum'at ini, harus pagi hari dimulai, harus jam 12 siang dimulai, ini gak ada. Ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu'alayhi wasallam. Wallahu A’lam bishshawāb.

• Pertanyaan 02

Kalau percaya atau menafsirkan mimpi dengan keyakinannya, apakah itu bentuk kesyirikan ?

• Jawaban 02

Tidak. Namanya tafsiran gak mesti benar. Oleh karenanya seorang, jika mimpi, berusaha dia tafsirkan dengan tafsiran yang baik, jangan dia tafsirkan dengan tafsiran-tafsiran yang buruk. Jika dia mimpi buruk, maka jangan dia ceritakan. Dia cuekin aja.

Tugas dia adalah beristihadhah, berdoa kepada Allah. Jika dia menceritakan, apa faedahnya. Yang faedah bagi dia, dia berdoa kepada Allah, agar dilindungi dari keburukan. Dia banyak beribadah agar dijauhkan dari keburukan. Jika dia ingin mentafsirkan, tafsirkan kepada tafsiran yang baik. Wallahu A’lam bishshawāb.

• Pertanyaan 03

Di Sulawesi Tenggara ada keyakinan tathoyur, jika seorang baru keluar rumah tahu-tahu ada beolnya orang lain di depan dia, wah ini nasib sial. Oleh karenanya supaya dia bantah tathoyur terus dia mengatakan, justru ini akan datangkan rejeki.

• Jawaban 03

Kita bilang gak perlu seperti itu. Bukan berarti jika ada beol lalu datangkan rejeki, tidak perlu. Kebetulan ada orang lagi terganggu kemudian dia beol di situ. Atau mungkin dia lagi kebelet gak sempat lalu beol disitu. Sudahlah, tinggal kita bersihkan.

Gak ada hubungannya dengan nasib sial. Ada orang ingin ganggu kita mungkin, bukan berarti menunjukkan nasib sial. Jadi tidak perlu dibantah dengan keyakinan yang sebaliknya, menyatakan beolnya orang di depan rumah saya, tanda rejeki. Ini juga ngawur seperti ini, ini tidak benar. Wallahu A’lam bishshawāb.

• Pertanyaan 04

Beliau bertanya, beliau beli gelang kayu, ternyata dikatakan gelang itu bisa mendatangkan kesehatan atau gelang tersebut bisa menolak roh-roh halus atau balak.

• Jawaban 04

Jelas ini kesyirikan, inilah yang disebut dengan jimat, maka buang.

• Pertanyaan 05

Apakah riya' setelah selesainya amal perbuatan membatalkan pahala? Seperti riya' ketika melakukan amalan perbuatan tersebut? Contoh orang riya' dengan sedekah yang ia keluarkan dengan menyebutnya setelah sedekah. Apakah pahala sedekahnya akan hilang?

• Jawaban 05

Jadi, orang ini setelah sedekah dia ikhlas. Setelah setahun kemudian timbul riya' dalam dirinya ingin pamer. Kata para ulama, jika amal sudah selesai maka sudah selesai. Ini riya' dosa tersendiri, tidak ada kaitannya dengan pahala yang tadi. Pahala yang tadi sudah selesai dan ini dosa tersendiri.

Adapun sedekah yang diawalnya diterima (in sya Allah). Karena dia tidak riya tatkala sedang bersedekah. Wallahu A’lam bishshawāb.

• Pertanyaan 06

Terkadang saya bersedekah atau menyumbang dan tidak saya beritahukan kepada istri saya. Terkadang juga saya sampaikan tapi hanya sampaikan nilainya atau jumlahnya lebih sedikit dari yang sebenarnya. Ini karena saya takut riya' dan saya takut istri saya tidak ikhlas klo saya sebutkan nilainya. Apakah ini berdosa ?

• Jawaban 06

Dia sumbang duit, tapi dia tidak mau kasih tahu istri. Dan memang tidak perlu kasih tahu istri, ngapain kasih tahu istri? Tidak harus. Yang penting istri diberi nafkah yang enak, dibelikan baju yang bagus, diberikan perhiasan, dikasih mobil, suruh diam, gak usah ngatur urusan. Yang penting kita gunakan untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Istri curiga klo sikap kita macam-macam.

Tapi selama kita berbuat baik, yang penting kebutuhan istri dan anak-anak dipenuhi maka tidak harus istri mengetahui keuangan kita. Dan tidak perlu memberi tahu. Klo diberi tahu, dikasih tahu sebagian pun tidak masalah, tidak berdosa. Tetapi kita latih istri kita untuk mau bershodaqoh.

Pelan-pelan, kita suruh istri kita bershodaqoh. Kita sampaikan akan pentingnya shodaqoh, sampaikan bahwa kita meninggal dunia tidak akan ada harta sedikitpun yang kita bawa. Ini harus kita pahamkan kepada istri kita, sehingga istri kita yang mendorong kita untuk bershodaqoh suatu saat. Karena gak baik juga kucing-kucingan tiap bershodaqoh.

Meskipun tidak harus kita menyampaikan seluruh keuangan kita kepada istri, tidak harus. Yang penting kewajiban kita adalah memenuhi kebutuhan istri dan anak-anak. Menyiapkan untuk masa depan kita, setelah itu bukan kewajiban kita. Wallahu A'lam bishshawab.

• Pertanyaan 07

Bagaimana orang yang pergi ke pawang hujan supaya hujan tidak turun? Apakah bisa dikatakan musyrik ? Dan faktanya benar-benar tidak turun padahal musim hujan.

• Jawaban 07

Saya katakan bahwasannya terkadang hujannya tidak turun, terkadang juga pawangnya kacau jadi hujannya tetap turun. Tidak mesti tidak turun. Dan itu hikmah dari Allah, Allah menguji.

Oleh karenanya Ibnul Qayim rahimahullah menyebutkan tidak ada atau sebagian ulama menyebutkan bahwasannya kesyirikan tidak mendatangkan kemudhorotan 100%, ada kemasla-hatannya. Kalau seandainya kesyirikan itu tidak ada kemaslahatannya sama sekali, maka tidak akan ada yang melakukan kesyirikan.

Saya ulangi!!! Allah sengaja menjadikan apa yang ada diatas muka bumi ini kesyirikan tersebut, tidak 100% kemudhorotan, tapi ada kemaslahatannya.

Seandainya kesyirikan itu gak ada kemaslahatannya sama sekali, maka tidak ada ujian dan tidak ada orang melakukan kesyirikan.

Oleh karenanya buktinya dukun terkadang beri manfaat bahkan sering. Yang tadinya suaminya ngamuk-ngamuk, dipelet jadi suka sama istrinya. Iya atau tidak ? Manfaat atau tidak ? Manfaat bagi istrinya.

Orang yang sakit bisa jadi sembuh. Ini semua praktek dukun dengan menggunakan jin-jinnya dan syaithan-syaithannya, ada manfaatnya, tapi ini merupakan kesyirikan.

Kita katakan demikian pula, terkadang dukun yang kita datangi atau orang yang didatangi kemudian diminta untuk jadi pawang hujan, terkadang berhasil. Dan ini ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Namun barangsiapa yang pergi kepada dukun tersebut maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan.

Dan masalah dukun, butuh pembahasan tersendiri, butuh pengajian tersendiri.

Oleh karenanya tidak boleh pergi ke dukun, meskipun terkadang mereka berhasil. Wallahu A’lam bishshawāb.

• Pertanyaan 08

Bagaimana cara menuntun untuk bertaubat kepada orang yang sedang sakaratul maut, yang masih dalam kondisi musyrik?

• Jawaban 08

Kita menyuruh dia untuk mengucapkan taubat, kita nasehati. Klo dia sakaratul maut, kita suruh لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ, tidak ada cara lain, kecuali menyuruh dia mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.

Sambil kita jelaskan klo bisa bahwasannya bertaubat dari kesyirikan-kesyirikan yang pernah dia lakukan, kemudian katakan lagi, katakanlah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ, semoga dia bertaubat di akhir waktu tersebut.

Saya punya teman, dia cerita sendiri kepada saya. Bapaknya dan ibunya murtad. Kemudian mereka semua sudah masuk islam (saya lupa murtad atau aslinya orang-orang nasrani atau sejak awal sudah musyrik, saya agak lupa). Intinya anak-anaknya sudah masuk Islam. Kakaknya juga sudah masuk islam, ibunya sudah masuk islam, tinggal bapaknya tidak mau masuk islam.

Akhirnya bapaknya sakit. Berbulan-bulan sakitnya. Setiap hari didatangi oleh kakaknya, didakwahi, dengan penuh kesabaran. Tidak mau juga masuk islam. Sampai detik terakhir, mau meninggal dia mengatakan, لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ, kemudian meninggal. Subhanallah.

Kita jangan pernah meremehkan hidayah Allah. Allah bisa beri hidayah kapan saja. Dia didakwahi 2 bulan gak mau masuk islam. Sudah sakit parah, gak mau masuk islam. Terakhir tatkala mau meninggal, karena kesabaran mungkin mereka berdoa dan berdoa, tatkala mau meninggal dia mengatakan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. Kemudian meninggal dunia, husnul khotimah.

Oleh karenanya jangan pernah meremehkan hidayah, kita berusaha dan hidayah datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Demikian saja.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
______________________

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULUHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 11 DARI 12)

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULUHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 11 DARI 12)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 29 Jumadal Ūla 1439 H /16 Februari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 11 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0234
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 11 DARI 12)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Diantara syirik kecil sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah adalah ujub. Yaitu seorang merasa berhasil karena dia merasa memiliki peran.

Ketika seorang merasa memiliki peran dalam meraih keberhasilannya maka dia terjerumus ke dalam ujub.

Oleh karenanya seseorang yang ingat firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

_"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."_

Maka kita sadar bahwasanya semua keberhasilan yang kita rasakan semuanya murni karena pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Apa yang mau kita andalkan, kita akan andalkan kecerdasan kita?

Yang memberikan kecerdasan adalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita andalkan pengalaman kita?

Yang memberikan juga Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan jangan merasa bahwa kecerdasanlah yang membuat kita berhasil.

Saya sering sampaikan bahwasanya kecerdasan tidak berbanding lurus dengan kekayaan. Pengalaman juga tidak berbanding lurus dengan kekayaan.

√ Betapa banyak orang yang pengalamannya banyak tetapi tetap miskin.

√ Betapa banyak orang yang IQnya tinggi, sekolahnya tinggi tetap tidak kaya-kaya.

√ Betapa banyak orang yang tidak lulus SD, jualan tiba-tiba kaya raya.

Oleh karenanya kekayaan tidak berbanding lurus dengan kecerdasan dan tidak berbanding lurus dengan pengalaman.

Kalau seseorang berhasil jangan katakan, "Karena kecerdasan saya," atau, "Karena pengalaman saya."

Tapi katakanlah, "Semuanya dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla," sehingga dia selamat dari penyakit ujub.

Terakhir, saya tutup dengan beberapa bentuk riyā' yang terselubung, karena sebagian orang terkadang terjerumus kepada riyā' secara tidak langsung.

Bentuk-bentuk riyā' terselubung tersebut banyak, disebutkan oleh para ulamā di antara seperti yang disebutkan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah adalah riyā' dengan berghibah.

Dia menghibah orang lain dengan mengatakan, "Si Fulān tidak pernah bershadaqah," (maksudnya) saya suka bershadaqah. Ini halus sekali.

"Si Fulān tidak pernah shalāt malam. Saya pernah safar bersamanya, seminggu dia tidak pernah shalāt malam," (maksudnya) dia shalāt malam. Hanya kalau dia mengatakan, "Saya shalāt malam," dia malu nanti dibilang riyā' sehingga syaithān membuat dia riyā' dari sisi lain. Intinya dia riyā'.

"Si Fulān waktu di pondok tidak pernah belajar," dalam hatinya dia mengatakan, "Saya belajar terus," dan ini sudah dipahami dalam pembicaraan. Ini berbahaya, dia riyā' sambil mengorbankan orang lain. Terjerumus ke dalam ghibah dan mengorbankan orang lain supaya dipuji, ini di antara riyā' terselubung.

Di antara riyā' terselubung adalah menyanjung-nyanjung gurunya secara berlebihan, (misalnya) "Guru saya adalah orang yang shālih, orang yang Māsyā Allāh," maksudnya, "Saya muridnya."

Ini juga cara yang halus dan ini juga dilakukan oleh sebagian orang.

Disanjung gurunya setinggi-tingginya dan mengatakan, "Saya muridnya," sedikit-sedikit mengatakan, "Saya muridnya." Maksudnya, agar ketukaran ketenaran gurunya, ini juga riyā' yang terselubung.

Seakan-akan karena gurunya ikhlās dia juga ikhlās, seakan-akan jika gurunya rajin ibadah dia juga rajin ibadah, padahal belum tentu.

Di antara riyā' terselubung seperti seorang yang menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang dia rasakan dan ini sebenarnya dianjurkan untuk menyebutkannya.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

_"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan."_

(QS Ad Dhuha: 11)

Akan tetapi dilarang apa dengan tujuan riyā'. Seakan-akan dia adalah wali, dia mengatakan, "Subhānallāh, Allāh mudahkan saya segala urusan."

Jadi bukan murni karena bersyukur kepada Allāh tetapi, "Karena saya ini orang yang shālih."

Dibalik perkataannya ada udang dibalik batu.

Seandainya dia mengucapkan, "Allāh memudahkan semua urusan saya," benar-benar dia bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla  maka ini bagus, tetapi bila dibalik ucapannya itu dia ingin menyatakan, "Karena saya orang yang ikhlās, saya orang yang rajin bershadaqah, saya orang yang rajin shalāt, maka saya dimudahkan terus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla," kalau ada niat seperti ini maka ini riyā'. Dia ingin memunculkan bahwa dia seorang yang shālih.

Bahkan disebutkan oleh sebagian ulamā ada yang mengatakan, "Gara-gara dia mencela saya maka dia celaka," jangan sampai dia merasa hebat.

Kata sebagian ulamā, dia menyebutkan perkara ini, dia mengatakan, "Betapa banyak orang yang mencela Nabi kemudian selamat, betapa banyak orang yang mencela Nabi kemudian namun masuk Islām."

Terus kamu siapa?

Kamu dicela kemudian kamu mengatakan gara-gara dia mencela saya kemudian dia celaka, seakan-akan kamu merasa kamu seorang wali.

"Maka jangan pernah mencela saya," berarti, "Apabila kamu mencela saya maka kamu celaka," ini riyā' terselubung mengaku-ngaku sebagai wali.

Yang menyebutkan perkara ini adalah Al Munawi rahimahullāh.

Syaithān terlalu banyak mendatangkan pintu-pintu riyā' dan tidak ada jalan lain untuk kita selamat kecuali berdo'a.

Jangan pernah mengandalkan keimānan antum yang seadanya, kemudian antum merasa terlepas dari riyā' tidak ada jalan keluar kecuali berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla .

Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan kepada para shahābat:

"الشرك في هذه الأمة أخفى من دبيب النملة السوداء على صفاة سوداء في ظلمة الليل"

_"Sesungguhnya kesyirikan di dalam umatku ini seperti rayapan semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam."_

Siapa yang bisa melihat?

Semut merah saja di malam hari kita tidak bisa melihat apalagi semut hitam di batu hitam di malam hari.

Maka mereka mengatakan, "Bagaimana kita bisa selamat wahai Rasūlullāh? l"

Maka Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajarkan do'a:

اللَّهُمَّ إِنِّا نعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا نعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لما لا نعلم

_"Yā Allāh, aku berlindung kepada engkau syirik yang kami sadari dan aku mohon ampun dari syirik yang tidak kami sadari."_

Do'a ini harus sering kita ucapkan, karena kita sering terjerumus kedalam riyā'.

Ikhwān hari ini kita ikhlās, dua jam kemudian kita riyā'. Jangankan dua jam, lima menit berikutnya kita sudah pamer amalan kita.

Seringlah kita ingat do'a ini.

Oleh karenanya seorang hamba senantiasa berjuang untuk ikhlās kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sampai kapan?

Sampai dia meninggal dunia dan dia tidak pernah berhenti dari perjuangan untuk meraih keikhlāsan dan terus berusaha untuk ikhlās dan terus meningkatkan kecintaan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
______________________

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪUHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 10 DARI 12)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 28 Jumadal Ūla 1439 H /15 Februari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 10 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0233
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 10 DARI 12)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Di antara kesyirikan yang merupakan syirik ashghar adalah riyā'. Riyā' adalah seorang beribadah karena ingin dipuji oleh orang lain. Karena ingin dipuji, ingin disanjung, ingin dihormati.

Dan riyā' ini adalah kesyirikan yang sangat luas jenisnya. Oleh karenanya Imām Ibnu Qayyim rahimahullāh tatkala menyebutkan tentang syirik ini, beliau mengatakan:

أما الشرك في الإرادات والنيات فذلك البحر الذي لا ساحل له وقل من ينجو منه

_"Adapun syirik ini maka ini merupakan lautan yang tidak ada tepinya dan hanya sedikit yang selamat dari penyakit ini."_

Syirku niyah, seorang beribadah karena ingin dipuji, disanjung, dihormati. Menurut sebagian ulamā kesyirikan ini adalah kesyirikan yang terakhir keluar dari orang-orang yang imānnya tulus.

Orang-orang yang imānnya tulus sudah terbebas dari segala kemaksiatan, tinggal yang terakhir masalah riyā'. Ini yang terakhir keluar dari dia yaitu riyā', yang lainnya lebih mudah.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ

_"Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashghar."_

_Para shahābat bertanya:_

_"Apa itu syirik ashghar, wahai Rasūlullāh?"_

_Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) bersabda:_

_“(Syirik ashghar adalah) riyā’ yaitu seseorang beribadah untuk dipuji._

(Hadīts riwayat Ahmad 5: 429)

Dalam hadīts lain, tatkala para shahābat sedang berbicara tentang Dajjāl dan mereka mengetahui bahwasanya Dajjāl adalah perkara yang besar (fitnah yang luar biasa).

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ؟
قَالَ : قُلْنَا : بَلَى , فَقَالَ : " الشِّرْكُ الْخَفِيُّ , أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ " 

_"Maukah aku beritahukan kepada kalian fitnah yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada fitnah Dajjāl."_

_Mereka berkata:_

_"Tentu wahai Rasūlullāh."_

_Kata Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam:_

_"Syirik yang samar. (Dalam riwayat lain, "Syirik yang tersembunyi")."_

_Kemudian Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mencontohkan:_

_"Seseorang berdiri kemudian dia shalāt, dia bagus-baguskan shalātnya karena dia tahu ada orang lain yang sedang melihat dia shalāt.”_

Inilah syirik yang berbahaya yang dinamakan oleh Syaikh Ibnu Taimiyyah dengan Syahwat Khafiyyah (syahwat yang tersembunyi).

Sebagaimana seorang punya syahwat untuk makanan, untuk minum, bagaimana seorang laki-laki punya syahwat terhadap seorang wanita, ternyata orang-orang shālih pun punya syahwat untuk dihormati, diagung-agungkan dan disanjung.

Dan syahwat ini merupakan kelezatan, jika syahwat tersebut telah dipenuhi maka dia akan merasakan kelezatan yang luar biasa.

Seseorang rela mengorbankan nyawanya demi syahwat.

Bukankah orang yang berjihād karena ingin dipuji, dia rela untuk mati asalkan diakui keberaniannya?

Yang penting dia diakui kehebatannya, yang penting dia diakui kejantanannya untuk dikenang, sehingga dia rela untuk mengorbankan nyawanya demi syahwat dia.

Kalau nyawa saja dia rela mengorbankan apalagi yang lainnya. Orang-orang rela berkorban dengan hartanya yang penting dia dihormati oleh masyarakat.

Seperti seorang ustadz yang mencari pujian, dia rela menghapalkan Al Qur'ān dan hadīts. Perlu waktu yang panjang, perlu sekolah bertahun-tahun hanya ingin dipuji. Kalau nyawa saja rela mereka korbankan apalagi waktu, yang penting syahwatnya terpenuhi.

Sebagian ulamā seperti At Thayibi menyebutkan, kenapa seseorang riyā'?

Karena dia merasa letih, tatkala dia beribadah yang melihat hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dia ingin rilex, sehingga dia ingin mendapatkan sebagian tujuan duniawi, sehingga dia disanjung, dihormati, akhirnya dia beribadah karena ingin mendapatkan sanjungan tersebut.

Karena kalau hanya Allāh yang tahu apa faedahnya ?

Kalau hanya Allāh yang tahu bagaimana ?

Tidak ada kenikmatan yang kongkrit dihadapan dia. Maka dia menginginkan kenikmatan yang kongkrit seperti sanjungan, orang-orang menghormatinya, sering mendapat hadiah. Ini kenikmatan syahwat yang dia rasakan.

Orang-orang seperti ini sangat menderita tatkala timbul saingannya dan saingannya itu mulai disanjung orang-orang karena syahwatnya terusik.

Wajar jika kemudian timbul hasad atau kebencian di antara sebagian penuntut ilmu, ustadz atau ulamā. Karena sebagian mereka terkena penyakit seperti ini. Waliyadzubillāh.

Seseorang, tatkala merasakan penyakit ini, maka hendaknya dia berlindung kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini adalah penyakit yang terakhir keluar dari seorang yang berimān kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Barangsiapa yang bersih dari penyakit seperti ini, maka sungguh dia adalah orang-orang yang diselamatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
_____________________

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 08 DARI 12)

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 08 DARI 12)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 26 Jumadal Ūla 1439 H /13 Februari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 08 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0231
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 08 DARI 12)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemudian, di antara syirik ashghar yang tersebar di tanah air kita, adalah memakai jimat.

Dan banyak orang-orang yang mengunakan jimat. Yang jadi masalah kyai-kyai juga menjual jimat, bahkan jimat-jimarnya dijual dengan harga yang mahal.

Saya bertemu dengan para pembeli jimat tersebut, mereka mengatakan jimat-jimat tersebut harganya mahal. Semakin hebat tujuannyamaka semakin mahal harga jimat tersebut. Kesyirikan dijual-belikan, rajah-rajah ditulis.

Dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Abdullāh bin Mas'ūd radhiyallāhu ta'āla 'anhu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

_"Sesungguhnya jampi-jampi dan jimat-jimat, mantra-mantra dan tiwalah (pelet) adalah kesyirikan."_

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd, Ibnu Mājah, dan Ahmad. Lihat Shahih Jami’ Ash Shaghir nomor 1632)

Hadīts ini ada sebab wurudnya, kenapa Ibnu Mas'ūd menyebutkan hadītsnya?

Karena salah satu dari istrinya Ibnu Mas'ūd radhiyallāhu ta'āla 'anhu memakai jimat di kalung atau tangannya dan dilihat oleh Ibnu Mas'ūd.

Maka Ibnu Mas'ūd mengatakan, "Apakah ini?" Dan melepas dengan keras jimat yang dipakai oleh istri beliau.

Istrinya mengatakan, "Sebelumnya mata saya bergerak-gerak sendiri dan saya mendatangi seorang dukun, setelah saya menggunakan jimat ini mata saya sekarang sembuh."

Kemudian Ibnu Mas'ūd mengatakan, "Itu adalah syaithān, syaithān membuat demikian sehingga tatkala kamu menggunakan jimat itu maka syaithān berhenti dari menganggu mu."

Dan demikian ini sering terjadi. Seharusnya hal seperti itu dilawan dengan rukyah bukan dengan memakai jimat bantuan jinn atau bantuan syaithān.

Kemudian Ibnu Mas'ūd mengatakan: Saya mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 إن الرقى والتمائم والتولة شرك

_"Sesungguhnya jampi-jampi, mantra-mantra, jimat-jimat dan pelet merupakan kesyirikan."_

(Hadīts riwayat Ahmad dan Abū Dāwūd)

Dalam satu hadīts, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

من تعلق تميمة فلا أتم الله له،

_"Barangsiapa yang menggunakan jimat maka Allāh tidak akan sempurnakan urusannya."_

Kenapa?

Karena orang yang memakai jimat, dia bertawakal kepada jimat bukan kepada Allāh. Dan kesyirikan sangat tampak pada seseorang yang menggunakan jimat.

Orang tersebut tidak pernah PD. Bila akan keluar rumah dia tidak akan PD bila tidak menggunakan jimat. Orang yang akan pergi berjihād pun menggunakan jimat, kalau tidak pakai jimat mereka tidak berani.

Saya pernah mendengar saudara-saudara kita yang berjihād di Ambon, sering orang-orang Nashrāni mengeluarkan wanita-wanita telanjang bulat, mereka tahu orang-orang muslim yang berjihād mereka menggunakan jimat, rajah, sehingga dia keluarkan wanita-wanita itu agar jimat-jimat mereka tidak berfungsi. Ini menyedihkan.

Masyayikh kita yang pernah berjihād di Afganistan juga menasehati para mujahidin di sana agar tidak menggunakan jimat, namun mereka tidak mau, mereka tetap menggunakan jimat.

Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تميمة فقد أشرك

_"Barangsiapa mengantungkan sesuatu sebagai jimat maka dia telah berbuat kesyirikan."_

(Hadīts riwayat Ahmad 4:156)

Dalam hadīts yang lain, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

_"Barangsiapa menggunakan jimat, Allāh akan membuat dia bertawakal kepada jimat tersebut."_

(Hadīts riwayaa Tirmidzī nomor 2072 dan Ahmad 4: 310. Syaikh Al Albāniy mengatakan bahwa hadīts ini hasan)

Barangsiapa yang menggunakan jimat, Allāh akan buat dia bertawakal kepada jimat tersebut, dan ini benar.  Orang itu benar-benar bertawakal kepada jimat itu.

√ Dia tidak akan merasa sukses dalam perdagangannya kalau dia tidak membawa jimatnya.

√ Dia tidak akan merasa selamat kalau jimatnya tidak dia bawa.

Sehingga dia lupa kalau semua kesuksesan, keselamatan datangnya dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kesyirikan akan tampak bagi orang-orang yang menggunakan jimat. Seharusnya seseorang bila akan keluar rumah berdo'a.

بِسْم اللَّهِ توكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، ولا حوْلَ ولا قُوةَ إلاَّ بِاللَّهِ

_"Dengan nama Allāh aku bertawakal kepada Allāh tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ

_“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain.”_

Harusnya dia berdo'a denga do'a tersebut, tetapi dia mencukupkan dengan menggunakan jimat.

Seseorang yang bergantung dengan jimat berarti dia bertawakal kepada jimat dan ini menunjukkan bahwa jimat itu pembawa kesyirikan.

Bahkan ada sebagian orang yang datang menemui Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk membaiat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membai'at yang 9 (sembilan) orang, hanya satu orang Nabi tidak dibai'at.

Kemudian orang itu bertanya kepada Mabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, "Wahai Rasūlullāh, engkau memba'it 9 (sembilan) orang kenapa satu orang tidak engkau bai'at?" Padahal bai'at penting.

Kemudian Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

ان علية تميمة

_"Dia menggunakan jimat."_

Sehingga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mau membai'at orang itu. Akhirnya orang itu melepas jimatnya kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membai'atnya.

Dari sini hukum menggunakan jimat adalah kesyirikan.

Yang dimaksud jimat adalah syirik ashghar adalah orang-orang yang menyatakan bahwa jimat ini adalah sebab yang mendatangkan keberhasilan adalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla (ini adalah syirik keci).

Barangsiapa yang menyatakan bahwa jimat ini yang menyelamatkan maka ini adalah syirik besar. Keluar dari Islām.

Akan tetapi jika mengatakan bahwa jimat ini adalah sebab maka inilah yang disebut dengan syirik ashghar (syirik kecil) karena syari'at tidak pernah menjadikan jimat sebagai sebab. Tidak pernah!

√ Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajarkan do'a-do'a.

√ Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajarkan dzikir-dzikir.

Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengajarkan jimat, apalagi jimat-jimat tersebut berisi mantra dan rajah-rajah.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
______________________

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 7 DARI 12)

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 7 DARI 12)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 25 Jumadal Ūla 1439 H /12 Februari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 07 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0230
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 7 DARI 12)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Barangsiapa yang keluar dari rumahnya, tiba-tiba ada burung merpati yang kotorannya mengenai bajunya atau kepalanya lalu orang tersebut mengatakan, "Nasib sial," dan orang tersebut tidak jadi pergi untuk bekerja, karena kotoran burung merpati yang mengenai baju atau kepalanya, maka orang seperti ini terjerumus kedalam kesyirikan.

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

_"Barangsiapa yang tidak jadi melakukan urusannya karena sesuatu (thiyarah) maka dia telah melakukan kesyirikan."_

Sehingga dia mengkaitkan nasib sialnya dengan kotoran burung yang mengenai baju atau kepalanya, padahal burung merpati tersebut tidak sengaja.

Barangsiapa seperti ini, keluar rumah tiba-tiba ada kucing lewat di depannya kemudian dia mundur ( tidak jadi keluar rumah), maka dia terjerumus ke dalam kesyirikan. Seharusnya dia tetap pergi (keluar rumah) dan mengatakan:

اللهم لاَ خَيْرَ إلا خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إلا طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Ini adalah do'a untuk menghilangkan perasaan seperti itu, karena perasaan itu sering muncul terutama kita yang di Indonesia yang terlalu banyak pamalinya.

Pamali ini syirik. "Jangan begini jangan begitu," ini semua kesyirikan.

Oleh karenanya kita harus lawan (jangan dipedulikan).

Dalam hadīts Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam:

ولا صفر

_"Tidak ada kesialan pada bulan shafar."_

Karena dahulu orang-orang jāhilīyyah mereka menganggap menikah di bulan shafar adalah pernikahan yang sial.

Betapa banyak di Indonesia seperti ini. Banyak orang percaya primbon, (misalnya)  kalau akan menikah mereka mencari bulan tertentu (merepotkan diri sendiri) dan ini tidak ada hubungannya dengan kesialan.

Ketika kita berada di rumah tiba-tiba ada suara dua ekor burung hantu disekitar rumah kita, lalu kita mengatakan, "Ini pertanda akan ada yang meninggal diantara kita," padahal burung hantu ini tidak ada kaitannya dengan nasib sial. Ini merupakan keayirikan.

Oleh karenanya apa yang tersebar di buku-buku primbon bahwasanya harus begini, harus begini, tidak boleh begini, tidak boleh memotong kuku pada kamis, tidak boleh seorang yang masih lajang duduk di depan pintu rumah, ini semua adalah kesyirikan tidak pernah diajarkan oleh Islām.

Dan ingat kita umat Islām tidak boleh membuat aqidah sembarangan, Allāh melarang hal ini, tidak boleh kita beraqidah kecuali ada dalīl dari Al Qur'ān dan Sunnah.

Kalau ingin sembarang beraqidah, jangan jadi orang Islām. Orang Islām punya aturan, aturan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla  dan rasūl-Nya.

Disebutkan dalam sejarah, ada seorang raja yang keluar dari istananya. Tiba-tiba raja itu membuka pagar istananya dan bertemu dengan orang buta. Baru pertama keluar pintu gerbang istana dia melihat orang buta, maka sang raja mengatakan, "Ini orang sial," kemudian orang buta tersebut dimasukan penjara oleh sang raja. Karena sang raja menganggap orang buta ini mendatangkan kesialan.

Kemudian sang raja keluar rumah dengan tenang karena menurutnya si pembawa sial sudah dimasukan kedalam penjara. Dia keluar hingga sore hari karena dia keluar rumah dengan tenang akhirnya sore harinya orang buta itu dibebaskan dari penjara.

Sang raja mengatakan, "Alhamdulilāh saya selamat, kamu membawa sial sehingga saya memenjarakan kamu."

Kemudian orang buta itu mengatakan, "Wahai raja, yang membawa sial saya atau anda? gara-gara anda saya sial sehingga masuk penjara," akhirnya sang rajapun malu.

Ada juga yang mengatakan, "Saya tidak mau hari pertama bekerja hari sabtu," saya pernah bertemu orang seperti ini. Saya suruh dia bekerja di Madīnah, dia mengataka, "Afwan, saya tidak bisa bekerja kalau hari pertama bekerja hari sabtu," Ini keyakinan yang merepotkan seseorang.

Thiyarah ini keyakinan yang merepotkan seseorang, merepotkan hidupnya. Akhirnya banyak aturan. Dia ingin hartanya berkah, hidupnya tenang dan senang jadi segala sesuatu ada hitungannya ada primbonnya sehingga justru menyusahkan dirinya sendiri. Ini merupakan kesyirikan.

Di antara syirik ashghar (syirik kecil) yang berkaitan dengan aqidah seperti keyakinan fengsui yang tersebar di tanah air kita dari keyakinan orang-orang penyembah jin, penyembah dewa-dewa (orang-orang hindu atau budha). Ini semua khurafat, ini semua merupakan kesyirikan.

Barangsiapa yang dia tidak jadi berbuat sesuatu dikarenakan ada sesuatu yang membawa sial maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan.

Seorang yang bertauhīd maka dia tetap berjalan, dia menyerahkan urusan hidupnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, dia bertawaqal kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Kalau seandainya terjadi sesuatu maka bukan dikarenakan kucing yang lewat tetapi karena sudah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan dia harus melawan hatinya, karena terkadang karena sudah tersebar di masyarakat timbul perasaan-perasaan seperti itu di dalam hati orang yang bertauhīd.

Ini di antara syirik ashghar yaitu mengkaitkan kesialan dengan apa yang dia lihat atau didengar, dengan nama dan waktu tertentu atau tempat tertentu.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
______________________

KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG SAKIT

KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG SAKIT

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 23 Jumadal Ūla 1439 H / 10 Februari 2018 M
👤 Ustadz Nur Rosyid Abu Rosyidah
📔 Materi Tematik | Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
⬇ Download Audio: BiAS-RAR-KeutamaanMenjengukOrangSakit
🌐 Sumber: https://youtu.be/pVsmJzxdJ9o
----------------------------------

*KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG SAKIT*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة االله وبركاته
الحمد الله وكفى وصلاة وسلام على رسوالله المصطفى وعلى آله وصحبه، ومن والاه ولاحولا ولاقوة الابالله

Saudara-saudaraku sekalian, Ikhwātal imān ahābakumullāh.

Bagaimana menurut antum, ketika kita kerja berangkat dari rumah pagi hari dan pulang kembali ke rumah di malam hari, kita sebagai kepala rumah tangga mencari māisyah tanggung jawab untuk keluarga, bekerja keras banting tulang, namun ternyata di awal bulan atau di akhir bulan kita tidak mendapatkan hak kita sebagai karyawan, hak kita sebagai pegawai ?

Padahal yang kita korban kan adalah waktu bersama keluarga, energi kita dan lain sebagainya.

Maka bagaimana perasaan antum?

Tentu saja di sana ada rasa tidak terima, tentu saja di sana ada rasa berontak, bagaimana mungkin saya sudah mengerjakan kewajiban saya, namun hak tidak dapat saya maksimalkan?

Mā'syiral muslimīn rahimani wa rahimakumullāh.

Saudara-saudaraku sekalian yang mencintai sunnah dan dicintai Allāh.

Kita berbicara tentang hak sesama muslim. Jikalau kita saja ketika ada hak yang tidak bisa kita manfaatkan, ada hak yang bisa kita ambil, kita merasa tidak menerimanya? k

Kita merasa berontak dalam hati. Bahkan ketika kita tidak berani untuk menyampaikan dan mengungkapkannya, banyak cibiran-cibiran mengatakan kepada kita, tidak tegas, tidak berani menuntut hak dan lain sebagainya.

Maka perhatikanlah saudaraku.

Begitu pula saudara-saudara kita yang lain memiliki hak terhadap diri kita.

Apa hak yang dimaksud?

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ

_"Ada 6 (enam) hak sesama muslim.”_

Ada 6 (enam) hak sesama muslim yang hendaknya bisa kita amalkan dan kita praktekan diantara kita.

Kita tidak membahas ke-enamnya namun salah satunya adalah:

و إذا مرض فعده

$"Ketika ada di antara kalian sedang sakit maka jenguklah."_

Sejatinya menjenguklah saudara kita yang sakit ini adalah penunaian hak terhadap saudara kita.

Bisa jadi saudara kita itu tidak meminta kepada kita, "Jenguklah saya! Saya sedang sakit tolong datang kemari."

Bisa jadi saudara kita tidak melakukan itu, bisa jadi tidak menyuarakan hal itu. Namun sejatinya, tetap saudara kita memiliki hak untuk kita menjenguknya.

Maka Mā'syiral muslimīn rahimani wa rahimakumullāh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan sedikit membahas berkaitan tentang adab-adab tatkala menjenguk saudara-saudara kita yang sakit.

• Yang pertama | Yang perlu kita perhatikan adalah berkaitan tentang rasa ikhlās ketika kita menjengguk saudara kita.

Dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah serta Ahmad dalam Musnadnya. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda tatkala ada seorang hamba yang ia pergi mengunjungi saudaranya, maka ibaratnya dianalogikan ia akan mendapatkan fadilah-fadilah yang besar digambarkan dalam hadīts.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

_Ketika ia jalan, ibaratnya ia sedang memetik buah-buahan surga sampai dia duduk. Dan ketika dia duduk, dia akan mendapatkan curahan rahmat yang besar dari Allāh 'Azza wa Jalla._

Maka sampai di sini, kita bisa melihat satu hikmah besar. Takala kita mengunjungi saudara kita bukan hanya kita sedang memberikan manfaat kepada saudara kita, yaitu penunaian haknya, namun kita juga mendapat fadilah yang besar.

Digambarkan dalam hadīts, ketika kita sedang berjalan dari rumah kita sampai ke tempat saudara kita yang sakit, seakan-akan kita sedang memetik buah-buahan surga sampai kita duduk. Dan ketika kita sudah duduk saat menjenguknya maka ibarat kita sedang mendapatkan limpahan yang deras dari rahmat Allāh Subhānahu 'Azza wa Jalla.

Bahkan kelanjutan dari hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ

_"Ketika ada saudaranya yang ia menjenguk di pagi hari maka tujuh puluh ribu malāikat mendo'akannya sampai sore hari. Sebaliknya ketika ia mengunjungi saudaranya di sore hari maka tujuh puluh ribu malāikat bershalawat sampai pagi hari."_

Mā'syiral muslimīn rahimani wa rahimakumullāh.

Sekali lagi, hadits ini bukan hanya membahas bagaimana kita mendapatkan fadhilah selaku orang yang menjenguk saudara kita.

Namun jikalau kita melihat hadīts yang tadi kita sampaikan berkenaan dengan hak sesama muslim, kitapun sudah memberikan fadhilah, kita pun sudah memberikan keutamaan kepada saudara kita yang sakit dengan menjenguknya yaitu penunaian hak mereka selaku sesama saudara muslim.

• Yang kedua | Adab yang perlu kita perhatikan ketika menjenguk saudara kita yang sakit adalah menjenguk kondisi sang pasien dan juga keadaan rumah sakit.

Ketika kita melihat pasien kita atau saudara kita sedang butuh istirahat yang panjang maka tentu saja kita jangan menjenguknya dikala istirahatnya.

Kita bisa kontak (hubungi) keluarganya terlebih dahulu atau kontak yang sedang bersamanya, apakah bisa dikunjungi atau tidak ?

Begitupula kita tidak menerobos jam-jam berkunjung rumah sakit.

• Yang ketiga | Bolehnya seorang wanita menjenguk laki-laki dan laki-laki menjenguk wanita.

Dalīl dari hadits ini adalah apa yang menjadi kisah antara 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā ketika menjenguk bapaknya yaitu Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu dan juga Bilal Ibnu Ra'bah radhiyallāhu 'anhu.

Tatkala didapati Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu dan juga Bilal ibnu Ra'bah sedang demam, maka 'Āisyah datang menanyakan kabar kepada abinya yaitu Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu dan juga menanyakan kabar kepada Bilal ibnu Ra'bah.

Hal ini menunjukan bolehnya laki-laki menjenguk wanita begitu pula sebaliknya, wanita menjenguk laki-laki.

Yang menjadi catatan adalah jangan sampai di sana ada ikhtilaf, jangan sampai di sana ada celah-celah syaithān yang dapat merusak dan mengotori isi hati kita.

• Yang keempat | Adab yang perlu di perhatikan adalah hendaklah kita membawa buah tangan, apapun itu.

Baik buah-buahan atau susu atau yang lain sebagainya, yang mana itu bisa mendekatkan hubungan antara kita dengan saudara kita yang sedang sakit.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda melalui hadītsnya yang umum, beliau mengatakan:

تَهَادُّوْا تَحَابُّوْا

_"Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling mencintai."_

(Hadīts riwayat Bukhāri dalam Al Adabul Mufrad nomor 594, dihasankan Syaikh Albāniy rahimahullāh didalam Irwa'ul Ghalil nomor 1601)

Dengan kita menjenguk merupakan bukti rasa cinta kita, namun dengan kita membawa buah tangan itu bisa menjadi contoh yang tepat, praktek yang tepat bentuk cinta kasih kita kepada keluarga kita.

• Yang kelima | Hendaklah kita menghibur sekaligus mendo'akannya.

Bagaimana bentuk hiburan yang tepat?

Kadang kala bentuk hiburannya kurang tepat ketika kita mengatakan, "Sabar ya pak," bisa jadi kata-kata itu membuat saudara kita yang sakit merasa tersinggung, seakan-akan dirinya tidak sabar.

Atau mungkin kita menggunakan kata-kata yang sedikit kasar, seperti mengatakan, "Makanya dari dulu sudah saya bilang begini dan begini." Perkataan ini seakan-akan meremehkan.

Lantas bagaimana contoh hiburan yang tepat yang dicontohkan oleh Nabi kita yang mulia (shallallāhu 'alayhi wa sallam) ?

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

لاَ بَأْسَ طَهُورٌ اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

_"Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, in Syā Allāh."_

(Hadīts riwayat Bukhāri)

Ini sejatinya bukanlah do'a, ini adalah bentuk hiburan.

Lantas bagaimana do'a ?

Do'a yang dianjurkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, melalui hadītsnya yang mashyur, yaitu:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

_"Ya Allāh Rabb manusia, dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada yang dapat menyembuhkan melainkan Engkau, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit."_

Maka inilah mā'syiral muslimīn, rahimani w rahimakumullāh.

Yang bisa kita bagi, yang bisa kita sampaikan dalam rangka berbagi faedah apa saja adab-adab yang perlu kita perhatikan tatkala kita menjenguk saudara kita yang sakit.

Ini mungkin yang bisa saya sampaikan, atas banyak kurangnya dan sedikit lebihnya, saya mohon maaf.

اقول ماتسمعون وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

-------------------------------------
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
-------------------------------------