🌍
BimbinganIslam.com
Rabu, 22 Muharram
1437H / 04 November 2015M
👤 Ustadz
Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul
Jāmi' | Bab Az-Zuhd wa Al-Wara'
🔊
Pendahuluan | Pengertian Zuhud Dan Wara' (Bagian 1)
▶ Download Audio: https://goo.gl/l0TPK6
➖➖➖➖➖
PENGERTIAN ZUHUD
DAN WARA' (BAGIAN 1)
بِسْـــــــــــمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــم
الحمد لله والصلاة
والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله
Ikhwan dan akhwat
yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Kita masuk dalam
bab yang baru dalam Kitābul Jāmi' dari Kitab Bulūghul Marām yaitu "Bāb
Az-Zuhd wal Wara' (Bab yang menjelaskan tentang zuhud dan wara')"
Sesungguhnya
kalimat zuhud dan wara' adalah 2 kalimat yang sering digandengkan, akan tetapi
2 kalimat ini memiliki perbedaan.
■ ZUHUD
Zuhud diambil dari
kalimat:
زَهِدَ - يَزْهُدُ - زَهَادَةً
Yang artinya
menunjukkan makna "sedikit".
Zahīd (زَهِيْدٌ)
maknanya:
شَيْءٌ قَلِيْلٌ
"Sesuatu yang
sedikit."
Oleh karenanya
dalam ayat, tatkala Allãh menyebutkan kisah tentang Nabi Yūsuf 'alayhissalām
yang dijual sebagai budak;
وَكَانُوا فِيهِ
مِنَ الزَّاهِدِينَ
"Dan mereka
membeli Yūsuf 'alayhissalām sebagai budak dengan harga yang sedikit."
(QS Yūsuf: 20)
Oleh karenanya,
yang namanya zuhud secara bahasa artinya "sedikit".
■ WARA'
Al wara' diambil
dari kalimat:
وَرِعَ - يَرِعُ -
وَرَعًا
Wari'a (وَرِعَ)
menunjukkan pada makna:
كَفَّ عَنْ
"Menahan diri."
Oleh karenanya
sebagian ulama membedakan antara zuhud dan wara', kata mereka bahwasanya:
◆ Zuhud
Yaitu menganggap
sedikit suatu perkara yang SUDAH DIMILIKI.
Dia sudah
mendapatkan barang tersebut, namun dia tidak pandang & menganggap itu
kecil.
Inilah yang
disebut dengan zuhud sejati, yaitu:
✓Seseorang memiliki harta yang sudah ada di
tangannya, namun dia memandang itu sedikit (tidak memandang itu sangat
bernilai), dia tidak tertarik dengan dunia tersebut, yang dia tertarik adalah
akhirat.
Oleh karenanya dia
zuhud terhadap dunia yang dia miliki.
◆ Wara'
Yaitu dia menahan
diri untuk tidak meraih, SEBELUM dia pegang barang tersebut.
⇒ Artinya ada sesuatu (mungkin urusan dunia
atau perkara yang meragukan) dia tinggalkan sebelum berada di tangannya.
Sebagaimana Nabi
shallallāhu 'alayhi wa sallam, tatkala mendapati ada kurma kemudian Beliau
tidak jadi memakan kurma tersebut, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam khawatir
kurma tersebut adalah kurma shadaqah.
Dan kita tahu,
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dilarang untuk makan dari sedekah,
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menerima hadiah dan menolak sedekah.
Rasūlullāh
shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mengambil kurma tersebut.
Kenapa ? Karena
Beliau wara' (menahan diri).
Oleh karenanya
tatkala Sufyan Ats Tsauriy rahimahullāh Ta'āla pernah ditanya: "Siapakah
orang yang zuhud?"
Maka Sufyan Ats
Tsauriy berkata: "Az-Zāhid, 'Umar bin 'Abdul 'Azīz."
⇒ Orang yang zuhud adalah yang namanya 'Umar
bin 'Abdul 'Azīz.
Kenapa ?
Karena 'Umar bin
'Abdul 'Azīz seorang raja & gubernur mulia di Madinah dan telah memiliki
dunia (harta seluruhnya sudah di tangannya) tetapi dia zuhud (tidak memandang
harta tersebut).
Dia menjadikan
harta (seluruh kekayaan) yang dia miliki sebagai sarana untuk akhirat.
Jadi dia:
✓Raghbah fil ākhirāt (semangat untuk
akhirat).
✓Raghbah 'anid dunya (tidak semangat dengan
dunia yang dia miliki).
Ini baru yang
disebut dengan zuhud yang sejati.
Bukanlah orang
yang zuhud itu yang tidak punya apa-apa kemudian dia mengaku zuhud.
Ini dia memang
tidak bisa, dia belum teruji (belum terbukti).
Kenapa?
Karena memang dia
tidak bisa (tidak berkesempatan) memiliki apa-apa.
Maka orang ini
bisa dikatakan "zuhud terpaksa", berbeda dengan "zuhud
pilihan".
Kalau 'Umar bin
'Abdul 'Azīz rahimahullāh Ta'āla adalah zuhud pilihan.
⇒ Kalau dia mau kaya (hidup bermewah mewah),
dia mampu.
Akan tetapi ia
tinggalkan itu semua karena dia zuhud, tidak terlalu tertarik dengan dunia.
Semua dunia tidak
ada di hatinya melainkan dijadikan sarana untuk meraih akhirat.
Karena kita dapati
sebagian orang mencela, misalnya:
"Kenapa si
Fulan itu hidupnya seperti itu?"
Dia belum
merasakan, dia merasa dirinya zuhud padahal dia belum teruji.
Dia hanya zuhud
terpaksa karena dia tidak memiliki uang untuk memiliki harta benda tersebut.
Kapan dikatakan
dia sebagai zuhud yang sejati ?
⑴ Kalau dia sudah diberi kemampuan untuk
menguasai/meraih/mendapatkan dunia namun dia tidak melakukan itu.
Atau,
⑵ Dunia sudah ada di tangannya namun
dijadikan dunia tersebut sebagai sarana untuk akhirat.
Maka itulah zuhud
yang sejati.
Adapun wara' yaitu
kita BELUM MEMILIKI sesuatu di hadapan kita.
Jadi, sesuatu mau
kita terjang, mau kita lakukan atau tidak, kita ragu...
"Jangan-jangan
termasuk yang syubhat."
"Jangan-jangan
termasuk perkara yang haram."
...Maka
ditinggalkan.
⇒ Itulah yang disebut dengan wara'.
Ini diantara
perbedaan antara zuhud dan wara' yang disebutkan oleh sebagian ulama.
والله أعلم بالصواب
__________________________
📦 Donasi
Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri
Syariah
| No. Rek :
7103000507
| A.N : YPWA
Bimbingan Islam
| Konfirmasi
Transfer : +628-222-333-4004
📝 Kritik
dan Saran silahkan disampaikan melalui :
🌐
http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran